Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Abdi Dalem Keraton, Pengabdian Tiada Kunjung Henti



Keraton Surakarta gelar ritual Boyong Kedaton ke-270

Bisa jadi abdi dalem keraton adalah bentuk pengabdian yang sebenarnya. Mereka bekerja tanpa pernah peduli dengan besarnya gaji yang akan diterima. Mereka juga tidak pernah ingin tahu sistem manajemen kepegawaian dan struktur kepangkatan yang berlaku di keraton. Abdi dalem adalah orang-orang yang mengabdikan diri menjadi pegawai keraton. Mereka mengabdikan dirinya kepada raja yang tugasnya menjaga, mengurus, dan merawat keraton, meliputi kesenian, budaya, dan rumah tangga.

Menurut Wakil Pengageng Sasana Wilapa Keraton Kasunanan Surakarta Kanjeng Pangeran (KP) Winarno Kusumo, abdi dalem di Keraton Surakarta terdiri dari golongan. Pertama adalah abdi dalem garap, yaitu abdi dalem yang bekerja dan mendapatkan gaji dari keraton, sedangkan yang kedua adalah abdi dalem anon-anon atau abdi dalem ganjaran. Mereka menjadi abdi dalem karena termasuk kerabat keraton, dank arena hadiah atas jasa-jasa mereka terhadap keraton.

“Abdi dalem ganjaran tidak harus hadir di keraton dan tidak digaji. Berbeda dengan abdi dalem garap yang harus datang setiap hari dan mereka mendapatkan gaji,” kata Winarno.

Winarno menambahkan apa yang disebut gaji ini sebenarnya bukan seperti gaji yang diterima karyawan pada umumnya. Meski dihitung sebulan sekali, namun gaji abdi dalem diberikan tiga bulan sekali.

Dari sisi kepangkatan, abdi dalem ini juga dibedakan menjadi dua. Kartiprojo adalah sebutan bagi pangkat rendah mnulai Lurah hingga Kanjeng Raden Aryo Tumenunggug (KRAT). Besarnya gaji kelompok kepangkatan ini di bawah Rp 100 ribu per bulan. Sedangkan untuk pangkat Kanjeng Raden Aryo (KRA) sampai pangkat tertinggi, Kanjeng Gusti (KG), disebut sentono (keluarga dan kerabat keratin) dengan gaji berkisar antara Rp 100 ribu hingga Rp 600 ribu per bulan sesuai masa pengabdian.

Kanjeng Raden Tumenggung (KRT) Sihantodipuro (56) misalnya. Abdi dalem yang bertugas di Gedong Lembi Sono (seni budaya) ini mengabdi Keraton Kasunanan Surakarta sejak umur 15 tahun. Setelah lebih dari 40 tahun mengabdi, Sihantodipuro kini menerima gaji sebesar Rp 90 ribu per bulan yang ia terima 3 bulan sekali.

“Penghasilan saya memang bukan hanya dari gaji abdi dalem. Saya mendapatkan berkah keraton yang membuat usaha kerajinan wayang kulit saya laku,” kata Sihantodipuro yang juga seorang pengrajin wayang kulit.

Cerita yang berbeda datang dari Nyi Lurah Sartinah Reksawanodya. Mengabdi di keraton sejak 30 tahun lalu, perempuan berusia 70 tahun ini mengalami tugas berpindah-pindah. Ia pernah berugas di lingkungan kantor Sasana Prabu, Karti Praja, dan terakhir kantor Keputren. Nyi Lurah Sartinah menerima gaji mulai Rp 4 ribu per bulan hingg kini Rp 70 ribu per bulan.

Ia juga mengalami masa pasang-surutnya keraton (setelah 1945), hingga masa paling sulit di keraton sekarang ini. Dia mengungkapkan pada masa Raja Surakarta Paku Buwono XII (1945-2004), gaji dibayar sebulan sekali ditambah beras 20 kilogram. Namun ketika Paku Buwono XIII mulai bertahta, gaji diberikan tiga bulan sekali tanpa beras.

“Menjadi abdi dalem itu ya ngawula (mengabdi) seperti ini. Niatnya mengabdi dengan ikhlas untuk mencari berkah keraton. Gajinya kecil, tapi berkahnya sanagat besar ,” kata perempuan yang kini bertugas sebagai polisi keraton.

Bersama Nyi Atmowanito Ngatiyem yang menjadi pasangannya dalam bertugas, Nyi Lurah Sartinah menjaga pos keamanan di ujung teras Untarasana. Setiap hari, dua polisi wanita ini berjaga mulai pukul 09.00 hingga pukul 15.00. Khusus hari Minggu. Mereka bekerja secara bergantian.

“Tugas saya mengarahkan pengunjung karena kadang-kadang mereka foto di tempat-tempat terlarang di kompleks keraton ini,” kata Nyi Atmowaito Ngatiyem yang telah 30 tahun mengabdi.

Ngatiyem dan Sutirah tidak sendiri. Bersama mereka terdapat sekitar 500 abdi dalem lain yang memiliki nasib serupa. Mereka adalah abdi dalem dengan masa pengabdian sedikitnya 20 tahun.

“Mengabdi di keraton itu harus ikhlas lahir batin. Bekerja di keraton itu tidak akan membjadikan kaya, tetapi menghidupi. Pengabdian itu tidak memikirkan jumlah gaji, karena rezeki bisa datang dari mana saja dan kapan saja,” kata seorang abdi dalem pecaosan Raden Tumenggung (RT) Suwitodipuro (85).

Suwito menuturkan dirinya memegang teguh sumpah yang pernah ia ucapkan ketika diterima menjadi abdi dalem puluhan tahun lalu. Pertama kali menjadi abdi dalem ia mendapat gaji Rp 400 dan kini gajinya tidak lebih dari Rp 100 ribu. Diluar tugasnya sebagai abdi dalem Suwito tidak memiliki pekerjaan lain. Toh ia bisa menyekolahkan 4 anaknya dan memberikan rumah ketika mereka menikah.

“Bagi orang lain mungkin aneh. Tapi inilahnyang namanya berkah dari keraton,” kata Suwito.

Winarno mengungkapkan keraton tidak mempunyai penghasilan sendiri. Seluruh biaya perawatan termasuk gaji abdi dalem berasal dari APBD Kota Surakarta dan Provinsi Jawa tengah. Setiap tahun keraton mendapatkan Rp 1,2 milliar. Bukan jumlah yang besar karena dana ini langsung dibagi untuk biaya operasional keraton.

Dari jumlah ini, sekitar Rp 900 juta untuk membayar gaji 500 orang abdi dalem dan sisanya dipergunakan untuk sembilan upacara adat keraton. Untuk satu upacara adat, seperti kirab Malam 1 Sura, Malam Selikuran, dan gerebeg keraton menghabiskan Rp 20 juta. Biaya terbesar adalah untuk membanttu acara tingalan jumenengan (peringatan naik tahta Raja Surakarta) yang mencapai Rp 50 juta.

“Keraton sebenarnya selalu defisit setiap tahunnya. Dana yang ada tidak mencukupi untuk biaya operasional. Tapi semuanya akan tertutup. Inilah berkah dan anugerah dari Tuhan,” tambah Winarno.

Para abdi dalem tidak tahu dan tidak ingin tahu bagaimana sistem manajemen pegawai, kepanagkatan, dan gaji. Mereka juga tidak pernah bertanya kenapa tidak ada lagi jatah beras 20 kilogran per bulan atau pun uang pesangon tiga kali gaji jika mereka pensiun seperti sebelumnya.

“Sampai nati saya ingin mengabdikan diri pada keratin, neski tidak digaji sekalipun. Saya bangga dan merasa terpilih nebjadi abdi dalem. Madhep manteb ngawulo keraton (pasrah dan mantab mengabdi),” kata Nas Ngabehi Yudo Prasetyo (51), abdi dalem bagian keprajuritan.

Untuk menjadi abdi dalem memang tidak mudah. Seseorang harus mengabdi bahkan sampai 10 tahun sebelum akhirnya diangkat dan mendapatkan nama serta gelar dari keraton. Mereka juga mendapatkan pendidikan tentang budi pekerti, adat istiadat dan budaya keraton.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*