Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Balai Soedjatmoko, Kantong Seni Budaya Solo

Balai-Soedjatmoko-Solo
Salah satu acara diskusi di Balai Soedjatmoko

Balai Soedjatmoko merupakan salah satu kantong kegiatan seni dan budaya di Kota Solo yang memanfaatkan bekas rumah kediaman dr Saleh Moh Mangundiningrat, ayah Soedjatmoko (1922-1989). Berada di Jl Slamet Riyadi no. 284 berlokasi satu area dengan toko buku Gramedia, resmi dibuka oleh Jakob Oetama (Presdir Kompas Gramedia) pada tanggal 31 Oktober 2003. Beragam agenda kegiatan diselenggarakan setiap bulannya di tempat ini, seperti pameran seni rupa, pertunjukan musik Jazz, klenengan, pemutaran film, diskusi, bedah buku dan lain sebagainya.

Bentara Budaya sebagai salah satu grup dari Kompas Gramedia melestarikan bangunan antik di tengah kota ini sebagai salah satu situs bersejarah yang didalamnya terdapat beragam kegiatan apresiasi seni dan budaya. Penamaan Balai Soedjatmoko sendiri memiliki niat untuk pelestarian bangunan rumah dan melacak jejak teladan kecendekiawanan Soedjatmoko yang pernah tinggal di Solo.

Seperti yang dilansir dari wikipedia.org, Soedjatmoko, lahir di Sawahlunto, Sumatera Barat pada 10 Januari 1922 dengan nama Soedjatmoko Mangoendiningrat, dia adalah seorang intelektual, diplomat, dan politikus Indonesia. Soedjatmoko dilahirkan dalam keluarga bangsawan dan belajar kedokteran di Batavia (sekarang Jakarta).

Balai-Soedjatmoko-Solo
Salah satu acara diskusi di Balai Soedjatmoko

Setelah dikeluarkan dari sekolah kedokteran oleh orang-orang Jepang pada tahun 1943, ia pindah ke Surakarta dan membuka praktik pengobatan bersama ayahnya. Pada tahun 1947, setelah kemerdekaan Indonesia, Soedjatmoko bersama dua pemuda lain dikirimkan ke Lake Success, New York, Amerika Serikat untuk mewakili Indonesia di Perserikatan Bangsa-Bangsa. Setelah itu, Soedjatmoko menjalani beberapa kegiatan politik. Pada tahun 1952 ia kembali ke Indonesia dan bergabung dengan pers beraliran sosialis dan Partai Sosialis Indonesia, lalu terpilih sebagai anggota Konstituante. Namun, karena pemerintahan Presiden Soekarno semakin otoriter, Soedjatmoko mulai mengkritik pemerintah. Untuk menghindari pencekalan pemerintah, Soedjatmoko pergi ke luar negeri dan bekerja sebagai dosen di Universitas Cornell di Ithaca, New York selama dua tahun. Tiga tahun kemudian ia tidak lagi bekerja, biarpun telah kembali ke Indonesia.

Setelah pemerintah Sukarno diganti, Soejdatmoko dikirim sebagai salah satu wakil Indonesia di PBB, dan pada tahun 1968 ia menjadi Duta Besar Indonesia untuk Amerika Serikat; ia juga menjadi penasihat untuk menteri luar negeri Adam Malik. Setelah kembali ke Indonesia pada tahun 1971, ia mendapatkan pencekalan pemerintah setelah peristiwa Malari pada Januari 1974, karena disangka telah merencanakan protes tersebut. Pada tahun 1978, Soedjatmoko menerima Penghargaan Ramon Masaysay untuk Hubungan Internasional, dan pada tahun 1980 ia diangkat sebagai rektor Universitas Perserikatan Bangsa Bangsa di Tokyo, Jepang.

Soedjatmoko meninggal di Yogyakarta pada 21 Desember 1989 pada umur 67 tahun.

Balai Soedjatmoko Jln. Slamet Riyadi 284 Solo 57141 Telp. & faks. : 0271 741990 Email : [email protected]

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*