Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Begini Proses Pembuatan Keris di Padepokan Brojobuwono

Begini Proses Pembuatan Keris di Padepokan Brojobuwono
Sesaji dalam pembuatan keris/Ganug Nugroho Adi

Pada masa kerajaan dulu, proses pembuatan keris dilakukan secara rahasia dan tidak sembarang orang boleh melihatnya. Kini besalen sangat terbuka bagi merteka yang ingin melihat secara langsung proses penempaan besi sampai menjadi sebilah keris.Namun satu hal yang tidak berubah, hingga kini seluruh proses pembuatan keris tetap dilakukan dengan perhitungan yang rumit. Empu Basuki, pemilik besalen dan Padepokan Brojobuwono, Desa Wonosari, Gondangrejo, Karanganyar, misalnya, dalam proses membuat keris masih melakukan ritual puasa dan berdoa kepada Tuhan sampai dia merasa mendapat petunjuk kapan proses pembuatan keris bisa dimulai.

Dalam proses pembuatan keris, Basuki dibantu para panjak (asisten), menyiapkan bahan-bahan, seperti besi tempat sekitar 12 kilogram untuk keris lurus, atau 18 kilogram untuk keris luk (berlekuk), baja sekitar 600 gram, dan bahan pamor (nikel) sekitar 350 gram. Pada zaman dulu, bahan pamor terbaik adalah meteor. Namun kini meteor sudah sangat sulit diperoleh.

Begini Proses Pembuatan Keris di Padepokan Brojobuwono
Peroses pembuatan keris di padepokan Brojobuwono/Ganug Nugroho Adi

Dalam proses pembuatan keris, bahan pamor dipasang dengan cara menjepitnya dengan dua besi, kemudian disatukan dengan penempaan sehingga terjadi lapisan atau lipatan berberselang-seling antara besi dan pamor.

Untuk pembuatan keris berkualitas sederhana setidaknya terdiri dari 128 lipatan. Sedangkan untuk kualitas nomor satu diperlukan minimal 2.000 lapisan. Semakin banyak lipatan otomatis proses pembuatan keris lebih rumit dan memakan waktu lebih lama. Keris dibuat dari campuran logam pilihan yang menghasilkan kekuatan dan keindahan yang khas. Material dasar dari sebilah keris terdiri dari tiga jenis logam, yaitu besi, baja, dan pamor.

Pamor adalah logam yang terbuat dari nikel atau bahkan batu meteorit. Namun terlepas dari kualitas bahan, yang juga cukup mempengaruhi kualitas keris adalah proses pembuatannya. Pada dasarnya, tahapan pokok dalam proses pembuatan keris adalah pembakaran, penempaan dan pelipatan. Selama proses pembuatan keris berlangsung, suasana besalen pun terlihat sibuk.

Dalam proses pembuatan keris, empu dan para panjak berulang kali memasukkan besi dan nikel ke perapian dan kemudian menempanya. Udara besalen pun menjadi panas. Abu sisa pembakaran berterbangan di antara tubuh empu dan panjak yang berkeringat.

Sekali waktu, lempengan besi merah-kuning menganga yang baru dikeluarkan dari peperapian itu langsung dicelupkan ke dalam minyak. Proses ini dinamakan nyepuh, yaitu mengeraskan besi dengan pendinginan mendadak. Dengan proses atau cara seperti itu, maka besi menjadi menjadi sangat kuat dan keras.

Kelak, setelah melipatnya sampai ratusan bahkan ribuan kali, material seperti besi, baja, nikel yang beratnya bisa mencapai puluhan kilogram itu bisa berubah menjadi calon keris yang tipis, ringan, namun kuat. Calon keris tadi akan sempurna menjadi sebilah keris, setelah melalui proses kinatah, yaitu memberikan ragam hiasan pada bilah dengan motif hewan, tumbuh-tumbuhan, wayang, atau pun rajah (mantra).

Tahan terakhir dalam pembuatan keris adalah proses marangi (memunculkan pamor), yaitu dengan cara memoleskan warangan (cairan arsenikum yang dicampur dengan air jeruk nipis) pada bilah keris. Warangan akan memunculkan lapisan hitam pada besi, sedangkan nikel tidak bereaksi sehingga warnanya tetap putih.

Warna putih berbetuk pola tertentu inilah yang disebut pamor. Harga sebilah keris dengan kualitas bagus bisa mencapai puluhan juta rupiah bahkan ratusan juta rupiah.

Meski termasuk senjata tikam, namun Basuki melihat bahwa pada zaman dulu keris dibuat bukan semata-mata untuk membunuh. Sebaliknya, keris dibuat pertama-tama karena untuk memenuhi kebutuhan ritual (spiritual).


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*