X
    Categories: Budaya

Busana dan Rias Pengantin Jawa Solo Putri

Busana dan Rias Pengantin Jawa Solo Putri | Foto : Donjuanfoto.com

Model busana dan rias pengantin Jawa khususnya dari Solo yang hingga kini masih cukup populer di masyarakat adalah Solo Putri dan Solo Basahan. Kedua jenis busana dan rias pengantin ini memiliki ciri khasnya masing-masing, mulai dari jenis pakaian yang dikenakan, motif busana, maupun gaya tata riasnya. (Baca juga : Busana dan Rias Pengantin Solo Basahan)

Busana dan tata rias Solo Putri mulanya hanya boleh dikenakan oleh keluarga keraton, namun seiring perkembangan zaman busana ini dapat dikenakan oleh masyarakat umum. Kini busana dan rias pengantin ini juga telah banyak mengalami modifikasi sesuai kebutuhan fashion masyarakat, bahkan model busana yang asli (sesuai pakem) justru sering tak terpakai.

Busana dan rias pengantin Jawa khususnya gaya Solo Putri yang sering kita lihat saat ini merupakan replika atau tiruan busana raja dan ratu dari Kraton Solo. Meski demikian, semua elemen busana dan rias yang ada tetap memiliki kandungan makna filosofis, yakni berisi doa dan harapan agar kedua mempelai bisa bahagia dan sejahtera dalam mengarungi mahligai rumah tangganya.

Busana dan rias pengantin Jawa Solo Putri | Foto : Donjuanfoto.com

Tata Rias Pengantin Wanita Solo Putri

Pengantin wanita memang akan selalu menjadi fokus utama dalam setiap merias wajah pengantin, terlebih pada urusan makeup, paes pada dahi, dan juga tata rambut atau yang sering disebut dengan sanggul. Menata dan merias bagian kepala pengantin wanita inilah yang biasanya akan membutuhkan waktu yang lebih lama.

Untuk tata rias wajah pengantin putri biasanya menggunakan bedak dengan warna kekukuningan untuk memunculkan aura kecantikan. Sedangkan bentuk alis dibuat mangot atau seperti bulan sabit, eye shadow menggunakan warna hijau dan coklat, blush on merah merona, lipstik menggunakan warna merah keoranyean, dan membuat paes di dahi dengan menggunakan warna hitam yang bermakna kesempurnaan.

Dalam membuat paes pengantin Solo Putri, bentuknya sama dengan paes pengantin Solo Basahan. Perbedaannya hanya pada penggunaan warna, yakni warna hitam pada Solo Putri dan warna Hijau pada Solo Basahan.

Ada empat bentuk paes yang harus dibuat untuk pengantin Solo Putri, yakni bentuk Gajahan yang terletak di tengah-tengah dahi, kemudian bentuk Pengapit yang mengapit gajahan, bentuk Penitis yang terletak diatas ujung alis, dan bentuk Godheg yang terletak didepan telinga.

Untuk tata rias rambut, pengantin Solo Putri menggunakan sanggul Bangun Tulak, jika dilihat dari belakang bentuk sanggul ini seperti kupu-kupu, oleh karenanya disebut juga dengan Ngupu. Sanggul bangun tolak sendiri memiliki makna sebagai Tolak Balak atau pencegah berbagai mara bahaya yang akan mengancam. Diatas daun telinga pengantin putri juga terdapat riasan rambut yang disebut Sunggar atau Sunggaran, makna hiasan ini adalah agar senantiasa mau mendengarkan nasihat yang baik.

Untuk perhiasan sanggul pengantin Solo Putri terdiri dari 7 buah Cunduk Mentul atau yang sering disebut dengan kembang goyang, kemudian 6 buah Tunjungan, 2 buah Sokan, Centhung, Cundhuk Jungkat dan roncean melati Tiba Dada.

Busana dan rias pengantin Jawa Solo Putri | foto:  donjuanfoto.com

Busana pengantin Solo Putri mempelai wanita

Ciri khas dari busana pengantin Solo Putri adalah penggunaan kebaya berbahan beludru panjang hingga lutut dengan hiasan lung-lungan bordiran emas. Motif berbentuk tumbuh-tumbuhan ini memiliki makna kesinambungan. Filosofinya dekat dengan bumi. Tidak merusak bumi, selalu bergandengan tidak ada putus. Sedangkan di bagian dada pengantin wanita terdapat kain tambahan (Bef) atau Kutu Baru yang dilengkapi tiga buah bros direnteng secara vertikal ditegahnya.

Pada jaman dahulu kebaya beludru ini hanya ada dalam warna hitam, namun kini semakin banyak pilihan warna seperti hijau, biru, merah, ungun dan lain sebagainya. Begitu pula dengan ukurannya, saat ini banyak modifikasi busana pengantin Solo Putri yang panjang kainnya seperti busana pengantin barat.

Busana penutup bagian bawah pengantin wanita bisa menggunakan banyak pilihan kain batik tradisional, seperti motif batik Sido Mukti, Sido Mulyo, atau Sido Asih. Di bagian depan kain batik ini biasanya akan dibuat wiru atau lipatan kain, terdiri dari 7, 9, 11 atau 13 lipatan dengan ukuran sekitar 2-3 jari. Untuk memperkuat dan mempercantik kain batik yang melelilit, maka dibutuhkan Setagen, Streples dan longtorso atau angkin.

Untuk tampil lebih anggun, maka akan dikenakan berbagai perhiasan lain seperti gelang, kalung, giwang, cincin, dan alas kaki berupa Selop dari bahan bludru sewarna dengan kebaya.

Busana dan rias pengantin Jawa Solo Putri untuk mempelai pria

Rias pengantin Solo Putri untuk mempelai pria bentuknya lebih sederhana dibandingkan dengan riasan pengantin wanita. Untuk bagian kepala sendiri, pengantin pria hanya diberi bedak yang selaras dengan pengantin wanita, sedikit lipstik, eye shadow, bunga kanthil yang diselipkan di telinga, dan pengantin diberi penutup kepala berupa Kuluk Kanigara atau juga bisa menggunakan blangkon khas Surakarta.

Busana pengantin Solo Putri untuk mempelai pria adalah berupa beskap atau jas singkepan, maupun beskap langenharjan berbahan beludru dengan motif lung-lungan yang sewarna dengan kebaya yang dikenakan mempelai wanita. Untuk bagian bawah pengantin pria juga menggunakan bebetan kain batik dengan pilihan motif Sidomukti, Sidoasih atau Sidomulya.

Untuk memperkuat kain batik yang dikenakan, pengantin pria juga menggunakan Setagen, Sabuk boro corak cinde, Epek atau timang berbentuk ikat pinggang dari bahan bludru sesuai dengan warna busana yang dikenakan.

Sedangkan perhiasan yang dikenakan pengantin pria adalah bros yang dipakai pada kerah dada sebelah kiri, kalung Karset atau Kalung Ulur dengan bros kecil di bagian tengah yang disebut Singetan, dan juga memakai keris Ladrang dengan Bunga Kolong Keris di bagian belakang. Untuk alas kaki pengantin pria juga menggunakan Selop tertutup berbahan bludru sewarna dengan beskap yang dipakai.

Baca juga : Tata Rias Pengantin Jawa Gaya Surakarta