Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Dalam Seni Tari, Mugiyono Kasido Mencipta Dialog Tubuh

Seniman Tari Mugiyono Kasido

seniman tari asal solo Mugiyono Kasido
seniman tari asal solo Mugiyono Kasido

POSTUR tubuhnya kecil dan kurus. Namun justru itulah kekuatannya sebagai penari.  Ia selalu cerdik mengeksplorasi tubuhnya -yang ternyata juga lentur- menjadi gerak  tari   yang akrobatik, komedial dan tak terduga.

Namanya  Mugiyono Kasido. Ia seorang penari dengan dasar tari Jawa klasik Solo yang kuat, sebelum akhirnya mengembangkan  ke dalam bentuk kontemporer.

“Tari Jawa membentuk karakter tari saya. Eksplorasi dan inovasi harus dilakukan agar lahir karya-karya yang dinamis, karena tari tradisional itu itu monoton. Dalam tari, tubuh harus mampu menciptakan dialog,” ujar kata Mugi, sapaan akrabnya.

Dialog tubuh inilah yang selalu menjadi konsep setiap tariannya. Dialog bisa saja terjadi antara sesama bagian tubuh yang bergerak, atau antara penari (gerak) dengan penontonnya.

seniman tari asal solo Mugiyono Kasido
Mugiyono Kasido/ganug

Memori Shinta, merupakan salah satu contoh karya Mugi yang cukup populer, karya ini memadukan unsur-unsur wayang kulit dan tari termasuk tembang (sinden) dan gamelan (gender dan rebab). Lakon bercerita tentang kenangan Shinta tentang kesia-siaan yang dialaminya;  pertemuannya dengan Rama, penculikan oleh Rahwana, pembakaran diri untuk membuktikan kesucian, hingga Rama yang tak mengakui anak yang dilahirkannya.

“Ini kisah tentang perempuan yang disakiti. Cerita semacam ini masih sering terjadi dan banyak perempuan yang  tidak berani melawan,” ujar Mugi yang kali ini melibatkan musisi Dedek Wayudi, sinden Yeni Arama, dan Iskandar Kamaloedin (peñata lampu).

Menurut Mugi, ia merasa tertarik untuk mengeksplorasi kisah Shinta dalam tari  karena dalam tokoh Shinta sebenarnya tersimpan segala yang bertentangan; hasrat dan keputusasaan, kerinduan dan dendam, serta  harapan dan ketidakberdayaan. Selain Shinta, membawakan karakter tokoh-tokoh dalam Ramayana, seperti   Rama, Rahwana, Hanoman, Kumbakarna dalam satu tubuh melalui gerak menjadi tantangan tersendiri.

“Dalam Memori Shinta, semua gerak saya kombinasikan secara kontemporer dengan tembang, ekspresi wajah, dan eksplorasi gerak tubuh,” ujar suami dari Nuri Aryati ini.

Selama ini, Mugi memang banyak menginterpretasi kembali cerita-cerita tradisi, terutama  wayang  dan tari. Sebelumnya, ia melahirkan Surat Shinta (2002), sebuah kolaborasi dengan penari topeng tradisi Wangi Indriya (Indramayu)  dan Boy Hanarong (Thailand).  Ia juga pernah menghentak lewat karya Srimpi Neyeng (neyeng artinya berkarat), sebuah karya satire  terhadap pelestraian seni-budaya yang tak pernah teralisasikan, karena hanya sebatas retorika.

Tema-tema karyanya pun selalu aktual, meliputi sosial, politik, ekonomi, hukum dan budaya. Seringkali karyanya merupakan respon atas peristiwa kekinian yang terjadi. Srimpi Neyeng lahir sebagai satu satu respon ketika tari Pendet dan Reog diklaim sebagai kebudayaan Malaysia.

“Saya bukan aktivis pergerakan, jadi bentuk protes saya ya lewat tari,” ujar dia.

Lahir di Klaten tahun 1967, sejak kecil Mugi memang mengenal baik hampir semua bentuk seni tradisi, terutama tari Jawa klasik.  Ia tumbuh dalam keluarga dalang serta lingkungan yang kental dengan kesenian tradisi.

“Kakek, ibu (Moerharti) dan saudara-saudara ibu yang lain semuanya dalang. Dunia  tari,  gamelan, wayang  dan tembang menjadi santapan saya sehari-hari sejak kecil,” kata Mugi di rumahnya, Pucangan, Kartasura, Jawa Tengah.

Karirnya sebagai koreografer   dimulai tahun tahun 1992 lewat Mati Suri. Karya pertama ini langsung meraih Tropi Mangkunegara IX   sebagai Penyaji Terbaik Tari Kontemporer. Setahun kemudian, karyanya yang berjudul Terjerat meraih penghargaan kategori Koreografer Terbaik. Meski beberapa penghargaan ia raih, namun nama Mugi sebagai koreografer baru mulai diperbincangkan setelah mengikuti International Dance Festival di Jakarta (1993).

Tahun 2000, Mugi menyajikan tarian tunggal yang menghebohkan; Kabar-Kabur. Sebuah tarian tanpa musik dan dibawakan hanya dengan properti kaos oblong.  Dalam karya yang mengkritisi kondisi pasca runtuhnya penguasa orde baru itu, Mugi mengeksplorasi tubuhnya yang elastis menjadi gerak yang mengagumkan. Ia memasukkan kaki dan kepala ke bagian lengan kaos, kemudian memindahkan satu kaki ke bagian lengan yang lain, sementara satu tangan berada di lubang lengan yang satunya. Sesekali ia tenggelam dalam kaos, menciptakan bentuk yang ganjil, juga lucu.  Gerak  setiap anggota tubuhnya yang lentur itu seakan berdialog, dan saling mentertawakan.

Kabar-Kabur rupanya tak hanya mencengangkan publik dalam negeri. Terbukti dalam rentang tahun 2000-2003, karya ini telah dipentaskan sebanyak  120 kali di 17 negara yang berbeda, seperti   Jepang, Hongkong, Jerman, Denmark dan Singapura. Setelah Kabar-Kabur, Mugi banyak diundang untuk mengikuti festival tari dunia menampilkan karya-karyanya, seperti Bagaspati,  Mencari Mata Candi,  Wedhatama, Kosong, Lingkar, dan Ringtone.

Selain sekolah tari formal di Sekolah Menengah Kerawitan Indonesia (SMKI) dan Sekolah Tinggi Seni Indonesia (sekarang ISI) Surakarta, Mugi  lama berguru kepada maestro tari dari Pura Mangkunegaran, Raden Ngabehi (R Ng) Rono Suripto,  Suprapto Suryadharmo, dan Sardono W Kusumo. Bersama Sardono, Mugi terlibat dalam beberapa karya besar, antara lain Opera Diponegoro, Passsage Through the Gong, Soloensis, Ziarah Ragawi dan Rock Corridor.

Ada cerita kegagalan yang menarik dari Mugi.  Di tengah namanya yang mulai dikenal sebagai koreografer andal, Mugi mencoba melamar menjadi dosen di almamaternya, STSI. Ia jalani semuanya sesuai dengan prosedur. Namun saat pengumuman, namanya tak tercantum dalam daftar perserta yang lolos tes. Kini setelah bertahun-tahun berselang, beberapa dosen yang dulu pernah menyeleksi  justru sering menjadi “pegawai”” Mugi saat pentas.

“Memang sudah jalannya di sini. Kalau diterima menjadi dosen, mungkin saya tidak bias banyak berkarya.  Menjadi penata tari itu panggilan hidup. Selain untuk hidup, lewat tari saya bisa belajar banyak hal,” kata ayah tiga anak ini.

Di sela-sela kesibukannya mengikuti berbagai festival, Mugi mengelola Mugi Dance Company, sebuah komunitas pertunjukan tari, di bagian rumahnya. Lewat kegiatan yang melibatkan warga di sekitar tempat tinggalnya ini, Mugi mengajak siapa saja untuk  berkesenian, sebagai cara untuk merawat  warisan budaya.  Merawat ini juga dalam artian mengembangkan kekayaan tradisi ke dalam konteks kekinian.

Mugi menilai  upaya pelestarian seni-budaya dari pemerintah selama ini hanya sebatas retorika.  Pemerintah hanya bermain pada tataran gagasan dan wacana, namun minim realisasi. Mugi mencontohkan kurikulum pendidikan yang mengabaikan muatan lokal, dan sebaliknya lebih mementingkan budaya asing.

“Mulai tingkat Sekolah Dasar, muatan lokal seharusnya masuk dalam kurikulum. Gamelan, macapat, wayang orang dan ketoprak harus ada untuk sekolah-sekolah di Jawa. Ini penting untuk regenerasi budaya, ujar pria yang sering memberikan workshop tari di sejumlah Negara, seperti Jepang, Taiwan,  Inggris,  Australia dan Amerika. (Ganug Nugroho Adi)


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*