Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Eksotisme Tari Klasik di Mangkunegaran Performing Art



Beksan-Golek-Montro
Beksan Golek Montro karya KGPAA Mangkunegoro VII dibawakan dalam ajang Mangkunegaran Performing Art. | foto : GNA

Gending di sudut pendapa itu mulai ditabuh pelan dan samar-samar.  Suara saron dan bonang mengalirkan irama dalam tempo lambat. Dari belakang pendapa, sembilan perempuan beriringan memasuki lantai pertunjukan. Bau wangi dupa dan asap kemenyan berhembus menyebar ke berbagai sudut ruangan.

Sembilan perempuan itu menyebar memenuhi pendapa. Gerakan mereka lembut, dan gemulai, khas tari klasik Jawa. Keanggunan gerak benar-benar terlihat dalam Tari Golek Montro yang mereka bawakan –sebuah tari koleksi Pura Mangkunegaran yang  menjadi sajian awal dalam Mangkunegaran Performing Art 2012 di Pendapa Pura Mangkunegaran Surakarta, Jumat (11/5) malam.

Beksan-Golek-Montro
Beksan Golek Montro karya KGPAA Mangkunegoro VII dibawakan dalam ajang Mangkunegaran Performing Art. | foto : GNA

Golek Montro sendiri merupakan karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro VII (1885-1944). Tarian sepanjang hampir tiga puluh menit ini bercerita tentang gadis-gadis keraton yang beranjak dewasa, yang mulai gemar berhias dan mempercantik diri untuk menyambut tamu agung kerajaan.

Sepenuhnya gerakan tarian ini gemulai dan dalam ritme lambat. Namun mereka  menarikannya dengan wajah yang selalu tersenyum. Tak heran jika penonton yang memadati pura tetap bisa menikmati Golek Montro.

Menariknya, di antara sembilan penari Golek Montro ini ada seorang penari yang merupakan warga Negara Jepang,  yaitu Kaori Okado. Perempuan asal Nagoya ini telah bertahun-tahun belajar tari klasik Jawa di Yogyakarta dan Solo. Ia juga menguasai beberapa tari banyumasan dan tari Bali. Khusus untuk tari koleksi Mangkunegaran, Kaori menguasai sekitar 15 tari.

Beksan-Wireng-Bandabaya-Mangkunegaran-Performing-Art
Beksan Wireng Bandabaya yang menggambarkan latihan perang bagi prajurit Mangkunegaran | Foto : GNA

Selepas Golek Montro, tampil tarian yang sedikit lebih rancak, yaitu  Wireng Bandabaya. Tarian yang dibawakan empat pria ini penuh dengan gerak tegas dan gagah, karena menggambarkan ketangkasan dan keperkasaan prajurit Mangkunegaranyang sedang latihan perang.

 Keempat penari berbusana prajurit Pura Mangkunegaran, lengkap dengan senjata berupa pedang tipis (anggar) dan tameng (perisai). Gerak-gerak tari  menampilkan atraksi ketangkas prajurit dalam berperang.  Tarian ini diciptakan Mangkunegara IV, merupakan perpaduan gaya Surakarta dan Yogyakarta,  yang mengkombinasikan antara seni bela diri, tari, dan penguasaan senjata. Wireng Bandabaya menjadi gambaran gagahnya prajurit Mangkunegaran.

Pergelaran pada hari pertama juga menampilkan tari sakral Gambyong Retno Kusumo, sebuah tarian yang diciptakan KGPAA Mangkunegara VIII. Tari ini  memiliki teknik gerak yang rumit karena hampir mengunakan semua teknik tari Jawa klasik. Seluruh gerakan terlihat selaras dan memesona. Gerak tangan, kaki, leher, dan ekspresi berpadu  menciptakan harmoni gerakan yang menawan.

Hari pertama Mangkunegaran Performing Art ditutup dengan Beksan Srikandi Larasati, tarian yang menggambarkan kecemburuan Srikandi terhadap Larasati, perempuan yang akan dinikai Arjuna, suaminya.  Keduanya melakukan perang tanding yang akhirnya dimenangkan oleh Srikandi. Namun meski memenangkan pertarungan, Srikandi tetap merelakan Larasati untuk menikah dengan Arjuna.

Menurut Gusti Pangeran Haryo (GPH) Herwasto Kusumo selaku ketua penyelenggara pergelaran, sebagian besar tarai klasik dalam Mangkunegaran Performing Art 2012 ini masih dalam bentuk aslinya. Tarian-tarian itu, jelas dia, selama ini bahkan jarang ditampilkan untuk umum.

“Namun dari 10 nomor tari yang ditampilkan selama dua hari memang ada beberapa tarian yang mengalami modifikasi menjadi tarian rakyat, seperti Tari Wireng Bandabayan dan Tari Golek Montro,”ujar Heru yang masih kerabat Mangkunegaran.

Pentas hari kedua, Sabtu (12/5) malam, dibuka dengan Beksan Panembromo yang melibatkan sebanyak 150 penari anak-anak berusia 4 sampai 10 tahun Sanggar Tari Soerya Soemirat. Ekspresi anak-anak yang polos dan geralan yang apa adanya justru menjadi daya tarik tarian ini.

Masih dengan penari anak-anak, berikutnya tampil Beksan Jaranan yang energik dan memikat. Tarian yang berakar  dari dolanan bocah  ini tampil dalam kemasan yang menarik. Dibawakan oleh sekitar 15 penari, Beksan Jaranan tampil ekspresif dan ceria layaknya dolanan anak-anak.

Beksan Puspito Retno ytang tampil menjelang berakhirnya pergelaran berhasil memukau ratusan penonton yang memadati Pura mangkunegaran. Mereka menatap ke tengah pendapa, menyaksikan delapan perempuan yang tengah menari.  Sungguh, setiap gerakan betapa indahnya. Tubuh yang meliuk lembut, tangan-tangan yang gemulai menyibakkan selendang. Gerak kedelapan penari pun begitu ritmis dan kompak, meski  mereka tidak selalu berhadap-hadapan. Sesekali mereka  bergerak menyebar menjadi dua atau empat kelompok, untuk kemudian kembali berjajar dalam satu garis.

Pada awal-awal pementasan, kedelapan penari seperti membawakan peran yang sama. Namun ternyata tidak. Menjelang akhir tarian, mereka ternyata memerankan dua kelompok yang berseberangan. Para penonton seperti tersihir menyaksikan penampilan para perempuan yang sedang membawakan tari Puspito Retno karya Kanjeng Pangeran Adipati Aryo (KPAA) Mangkunegoro IV.

“Tari Mangkunegaran itu unik, karena hasil perpaduan antara gaya tari Yogyakarta dan Surakarta,” ujar tokoh tari Jawa klasik, Irawati Kusumorasri.

Beksan Karna Tanding
Dua penari pria membawakan Beksan Karna Tanding | foto : GNA

Beksan Karna Tanding tak kalah menarik. Tarian ini barangkali sering dijumpai dalam pentas wayang orang. Inilah tarian yang menceritakan perang tanding antara Adipati Karna dan Arjuna dalam Baratayuda.

Berbeda dengan versi wayang orang, tidak terlihat ekspresi dendam dan amarah dalam tarian ini. Sebaliknya, Karna dan Arjuna tampil lembut dan gemulai. Bahkan ketika peperangan terjadi, gerakan tak berubah tegas dan gagah. Taburan bunga melati dari keris yang mereka gerakkan seakan membanguh nuansa perang Karna Tanding. Pentas hari kedua ditutup dengan Beksan Wiropratomo, tari yang menunjukkan peperangan Gatotkaca, Antasena, Abimanyu dan Kurawa.

Beksan Puspito Retno
Beksan Puspito Retno karya Kanjeng Gusti Pangeran Adipati Aryo (KGPAA) Mangkunegoro IV | Foto : GNA

Event Mangkunegaran Performing Art, menurut penari senior Solo, Suprapto Soeryodharmo, merupakan cara Mangkunegaran untuk membuka diri, mengenalkan sekaligus melestarikan dan mengembangkan seni dan budaya Jawa. Seperti tahun-tahun sebelumnya, even tahunan yang sudah berlangsung untuk yang keempat kalinya ini cukup menarik perhatian. Seridaknya, selama dua hari pertunjukan, ratusan penonton memenuhi Pura Mangkunegaran. Selain Sanggar Tari Soeryo Soemirat, para penari yang tampil dalam ajang ini juga berasal dari Langenprojo Pura Mangkunegaran, dan Akademi Seni Mangkunegaran (ASGA).

Mangkunegaran Performing Arti sendiri merupakan ajang untuk menampilkan bermacam tari Jawa klasik yang merupakan koleksi Mangkunegaran. Disebut sebagai tari klasik Jawa karena tariannya berakar pada tradisi budaya di lingkungan keraton. Pada tataran ini, seluruh gerakan tari Jawa Klasik mulai tangan, kaki, kepala, leher dan tubuh bergerak sesuai dengan pakem keratin. Tidak jarang bahwa beberapa gerakan memiliki filosofi yang sarat pesan dan nilai. Tak hanya gerakan, semua instrument tarian, seperti busana penari dan musik pengiring juga memiliki aturan sendiri.

“Lewat event seperti inilah kami ingin mengajak masyarakat ikur melestarikan dan mengembangkan kekayaan budaya keratin, khususnya tari. Seni tari adalah bagian dari jejak masa lalu bangsa, sayang kalau  hilang begitu saja,” kata Heru. (Ganug Nugroho Adi).


1 Comment on Eksotisme Tari Klasik di Mangkunegaran Performing Art

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*