Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Festival Jenang , Cara Solo Melestarikan Jenang

FESTIVAL-JENANG

Untuk mengenalkan kembali jenang sebagai panganan warisan leluhur, sekaligus sebagai salah satu jajanan khas Solo, Festival Jenang diselenggarakan di Kota Solo setiap tahunnya. Festival Jenang pertama digelar tahun 2012, aneka jenang, seperti jenang sumsum, jenang gendul, jenang mutiara dan jenang ketan merah-ketan hitam tersaji dalam kendil yang berjajar di rumah-rumah bambu. Penyaji jenang mengenakan busana tradisional seperti kebaya dan beskap.

Dalam tradisi masyarakat Jawa, jenang bukan sekadar panganan.Posisi jenang sangat dekat dengan perjalanan hidup orang Jawa bahkan sejak mereka masih dalam kandungan, lahir, dan akhirnya meninggal dunia. Jenang -panganan yang bahan bakunya berupa tepung beras atau ketan dengan cita rasa manis dan gurih- selalu menjadi pelengkap ritual keselamatan bagi orang Jawa.

Namun, kini banyak orang Jawa yang tidak mengetahui makna dari jenang, kecuali hanya sebatas sebagai jajanan.Bahkan sebagai panganan, jenang dianggap jajanan kuno, dan dianggap hanya pantas untuk santapan bayi.Jenang dianggap tak ada bedanya dengan bubur.

“Banyak yang mulai lupa bahwa kehidupan orang Jawa itu tidak lepas dari jenang.Mereka menganggap jenang itu makanan untuk orang sakit. Masyarakat rasanya perlu ingatkan kembali kepada nilai-nilai tradisi,” kata pengamat budaya dan tradisi Jawa Ronggojati Sugiyatno.

“Jenang merah dan putih ini sebagai simbol keberadaan manusia di dunia. Jenang merah lambang laki-laki sedangkan jenang putih simbol perempuan. Bersatunya jenang merah dan putih inilah yang melahirkan manusia ke dunia,” jelas penyelenggara festival jenang, Slamet Rahardjo.

Yang menarik, festival jenang ini menampilkan makanan khusus untuk ibu hamil seperti jenang baning (hamil sebulan), jenang iber-iber (hamil dua bulan) hingga jenang procot (hamil sembilan bulan). Bermacam jenis jejang ini merupakan warisan leluhur yang semuanya bermakna syukur.

Ketika hamil bulan pertama, kata Slamet, sang calon ibu dibuatkan jenang baning, yaitu menyatunya abang dan putih. Kemudian bulan kedua dibuatkan jenang iber-iber sebagai simbol pencarian. Jenang ini dibuat dari tepung beras terbaik dengan siraman santan dan juruh (gula merah yang dicairkan).

Hingga akhirnya pada bulan kesembilan menjelang bayi lahir, sang calon ibu dibuatkan jenang procot. Jenang ini berupa jenang putih dengan campuran pisang raja yang mengandung doa semoga bayi lahir dengan selamat.

Tak hanya jenang lokal, jenang impor pun unjuk gigi dalam festival jenang, seperti jenang Jepang, jenang Tionghoa dan jenang Korea. Kehadiran jenang-jenang impor pun menarik perhatian pengunjung.

“Festival Jenang ini menjadi salah satu cara warga Solo melestarikan jenang, baik sebagai perlengkapan ritual maupun sebagai jajanan tradisional. Zaman makin berkembang, dan jenang mulai terlupakan. Dulu, jenang selalu ada dalam perayaan ulang tahun. Sekarang jenang sudah tergantikan oleh kue tart,” kata Rudy.

Di sela-sela acara Festival Jenang, Rudy mengungkapkan jenang abang dan putih merupakan jenang yang selalu ada disetiap ritual tradisi masyarakat Jawa. Jenang ini melambangkan menyatunya dua unsur yang saling bertolak belakang menjadi satu kekuatan untuk mendapatkan keselamatan.

Menurut Ronggojati Sugiyatno, jenang tidak lepas dari kebudayaan dan kepercayaan masyarakat Jawa. Beberapa upacara selametan (syukuran) yang dilakukan oleh keluarga Jawa selalu menyertakan sajian atau sesajen jenang. Ia mencontohkan seorang perempuan Jawa yang hamil pertama kali dengan usia kandungan tujuh bulan akan melakukan syukuran tujuh bulanan atau mitoni. Salah satu sesajinya adalah jenang. Kelak jika bayi lahir juga kembali slametan dengan jenang.

Ronggojati yang pernah menjadi penasehat spiritual Paku Buwono XII ini menuturkan setiap jenang mengandung makna yang berbeda-beda. Jenang abang (merah) untuk perempuan yang baru melahirkan, misalnya, memiliki makna kekuatan (memulihkan tenaga). Sedangkan jenang sumsum atau jenang putih mengandung nilai ikhlas dan kebersihan hati.

“Jenang yang rasanya manis dan gurih merupakan simbol kesejahteraan. Zaman dulu, gula dan santan (kelapa) itu termasuk bahan pangan yang harganya tidak murah. Kemudian tekstur jenang yang lengket bisa diartikan sebagai persatuan dan kesatuan,” tutur dia.

Sementara itu, menurut Slamet, jika dilihat dari sisi kuliner tradisional jenang biasa disantap sebagai menu sarapan, karena memiliki kandungan karbohidrat, gula dan protein yang imbang sebagai sumber energi untuk memulai aktivitas.

“Jenang itu lembek, sehingga bagus untuk kerja usus dan lambung di pagi hari.”

Di banyak kota, bisa jadi jenang sudah sangat jarang ditemukan. Namun di Solo masih mudah didapatkan. Tidak hanya di sudut-sudut pasar tradisional, tetapi juga di beberapa kawasan seperti Baluwarti, Pasar Kliwon, Sriwedari, dan Keprabon.

“Saya punya mimpi dengan adanya festival jenang ini produk-produk kuliner lokal seperti jenang bisa masuk hotel berbintang. Kuliner lokal sebenarnya memiliki kualitas yang tidak kalah dengan kuliner asing. Mungkin perlu kemasan yang menarik agar jenang bisa masuk daftar menu hotel. Harus ada terobosan baru agar kuliner tradisional bisa berkembang,” kata Rudy. (GNA)


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*