Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Gamelan Jawa, di Desa Wirun Pembuatnya

pembakaran-gamelan

Rumah Saroyo, seorang empu gamelan di Desa Wirun, Mojolaban, Sukoharjo, Jawa Tengah, Sabtu (2/6) pagi itu tak seperti biasanya. Tak ada bunyi tempaan logam, tak ada api yang membara di perapian. Para pekerja besalen –tempat pembuatan gamelan- justru sibuk menyiapkan sesaji; ingkung ayam, nasi tumpeng, air kembang , dupa dan kemenyan.

 Menurut Saroyo, sebuah pekerjaan besar akan dimulai pada Sabtu Pahing  yang dianggap sebagai “hari baik” itu. Pahing adalah salah satu nama pasaran  dalam penanggalan Jawa.  Pekerjaan besar yang dimaksud itu adalah pembuatan seperangkat gamelan lengkap. Seperti umumnya dalam tradisi masyarakat Jawa, sebuah ritual selalu menandai  dimulainya sebuah pekerjaan besar.

Sesaji-untuk-melengkapi-ritual-Gongso-Ageng
Sesaji untuk melengkapi ritual Gongso Ageng pembuatan gamelan di Desa Wiru, Mojolaban, Sukoharjo, Surakarta, Jawa Ttengah. | foto : GNA

“Namanya ritual Gongso Ageng, sebuah upacara meminta keselamatan kepada pencipta agar pekerjaan berjalan lancer,” jelas Saroyo.

Saroyo menambahkan pada masa kejayaan Keraton Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Yogyakarta, ritual ini selalu dilakukan untuk mengawali pembuatan seperangkat gamelan lengkap. Selain kekuatan fisik, para empu gamelan seperti membutuhkan dukungan kekuatan non fisik, termasuk melakukan puasa Senin-Kamis, agar pekerjaannya berjalan lancar.

 “Ritual Gongso Ageng sudah puluhan tahun tidak dilakukan di sini (Desa Wirun). Seingat saya terakhir kali dilakukan tahun 1970-an ketika ada pesanan gamelan dari Kraton Kasultanan Yogyakarta,” kata Saroyo.

Gongso Ageng sendiri bukanlah sebuah ritual yang megah dan penuh arak-arakan. Ritual ini diawali oleh pemilik besalen yang berdoa di depan perapian, diikuti sejumlah abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta, dan para pekerja besalen. Selanjutnya  pemilik besalen memasukkan sesajen berupa kemenyan, gula merah, kelapa, dan beras merah ke dalam wajan tembaga.

Sebelum meninggalkan prapen (perapian), pemilik besalen melemparkan empat butir menyan ke dalam prapen. Selanjutnya, para peserta ritual duduk di tikar mengelilingi  sesaji yang diletakak di atas meja pendek yang besar.  Modin (pemimpin doa) dari Kraton Kasunanan Surakarta pun segera memimpin doa.

membakar-logam-untuk-gamelan
Pekerja besalen berjibaku membakar logam dalam pembuatan gong mengawali pembuatan seperangkat gamelan lengkap | foto : GNA

“Dengan ritual ini, para empu gamelan percaya mereka telah mendapat kekuatan  gaib dari roh leluhurnya, sehingga  nantinya bisa menyelesaikan pekerjaan besar. Kekuatan gaib itu diyakini akan datang dari roh para empu gamelan sebelumnya yang disebut dhanyang (penunggu) yang konon selalu berada di sekitar besalen,” kata Aloysius Suwardi,  pakar gamelan dari Instiut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Para pemilik besalen di Desa Wirun –sekitar 10 kilometer arah tenggara Kota Solo-   memang masih memiliki tradisi laku (prihatin) sebelum memulai membuat gamelan. Bukan hanya pemilik besalen, tetapi laku ini juga diberlakukan untuk bahan gamelan. Misalnya, selain campuran logam dan timah, masih ada campuran lain yang bersifat mistis seperti kemenyan, gula Jawa dan bunga sesaji.

Puncak dari ritual ini adalah bancakan, yaitu bersama-sama menyantap sesajen berupa ayam ingkung, sega gurih (nasi uduk), sambal goreng, serta aneka jajan pasar. Para pekerja besalen harus menyantap sesajen ini karena diyakini akan memberikan kekuatan gaib dalam mengerjakan pembuatan gemelan hingga selesai.

“Kepercayaan mereka terhadap  ritual Gong Ageng ini begitu kental sehingga tidak ada empu yang berani melanggarnya. Mereka yakin jika melanggar, maka dhanyang akan marah. Hasil gamelan tidak akan sempurna atau bahkan rusak,” tambah Suwardi.

Suwardi yang juga komposer gamelan ini menuturkan pembuatan gong akan mengawali serangkaian pembuatan gamelan secara utuh, sebelum membuat instrumen gamelan lain, seperti kenong, bonang, gambang, kempul, dan lainnya.

“Gong dianggap keramat, sakral, dan penuh aura mistis. Dalam musik gamelan, gong menjadi pengatur irama. Posisinya begitu terhormat. Tak heran jika gong sering dibubuhi predikat yang setara dengan status sosial tinggi, Kyai atau Nyai, seperti Kyai Muncar, Kyai Gerah Kapat, dan Nyai Sepet Madu,” ujar Suwardi.

Seorang-pekerja
Seorang pekerja sedang menyelesaikan pembuatan gong | foto : GNA

Maka, seusai ritual sedehana itu, para pekerja pun masuk besalen, sebuah ruangan yang tidak begitu luas, gelap, dan pengap.  Di besalen, para pekerja mulai menimbang tembaga, timah, dan perunggu. Sebuah gamelan lengkap terdiri dari 26 instrumen. Selain gong, instrumen gamelan terdiri antara lain kempul, kenong, bonang, saron, slenthem, gender, kethuk, dan kendhong.

Untuk membuat seperangkat gamelan lengkap biasanya dibutuhkan bahan baku sekitar 13 kuintal tembaga,  serta tiga kuintal perunggu dan timah. Khusus untuk gong, tak jarang ditambahi emas sebagai mas kawin (pengikat) dari si pemesannya.

“Seperangkat gamelan ini akan selesai dalam waktu 4 sampai 5 bulan. Pembuatan gong yang paling lama, karena untuk  mendapatkan bentuk saja perlu sekitar 5 hari. Selain ukurannya yang besar, lekuk permukaannya juga sulit dibentuk sehingga harus berulang kali dibakar dan ditempa,” jelas Saroyo yang sudah lebih dari 30 tahun menggeluti gamelan.

Begitu peleburan dimulai, suasana besalen  pun terlihat sibuk. Ruangan menerah karena bara api di perapian. Abu bakaran berterbangan di antara tubuh-tubuh pekerja yang berkeringat. Kelak, dari ruangan seperti itulah lahir instrumen gamelan yang menakjubkan. Kelak, setelah seluruh perangkat selesai dibuat, upacara selamatan akan kembali digelar.

memeriksa-gong
Para pekerja memeriksa gong yang baru diangkat dari perapian | foto : GNA

Sedangkan harga seperangkat gamelan lengkap mulai Rp 150 juta hingga Rp 500  juta tergantung kualitas bahan. Harga paling murah biasanya menggunakan campuran besi. Jika pesan per instrumen, misalnya gong berdiameter 90 cm, harganya mencapai Rp 11 juta. Semakin panjang ukuran diameter, semakin mahal pula harganya. Untuk gong berdiameter 105 harganya sekitar Rp 20 juta.

Di Desa Wirun, masa keemasan industri gamelan terjadi pada tahun 1999. Pada masa itu, hampir seluruh pemilik besalen di desa ini bisa mengekspor gamelan karya mereka dengan omzet mencapai miliaran rupiah. Spanyol, Yunani, Jepang, Korea dan Amerika Serikat adalah negara-negara yang paling sering memesan.

“Namun sekarang kondisinya sudah berbeda. Pesanan gamelan lengkap sudah sangat jarang. Kini pesanan lebih banyak secara eceran, misalnya gong, kenong, atau bonang saja. Itu pun belum tentu ada sebulan sekali,”   kata Supoyo, seorang empu gamelan yang lain.

Empu Saroyo melaras
Empu Saroyo melaras (menyetem) nada instrument gamelan | foto : GNA

Tak heran jika kemudian banyak perajin gamelan yang menutup besalen-nya, dan memilih kembali menggarap sawah. Jika sekitar 10 tahun lalu di Desa Wirun masih terdapat 15 besalen, kini hanya hanya tinggal 10 besalen yang masih berproduksi, antara lain besalen milik Saroyo, Supoyo, Joko Darmono, Pardiyo, Saleh Sutomo, dan Suparno.

Toh meskipun kondisinya sudah jauh berbeda dibanding masa keemasan beberapa tahun lalu, namun Desa tetap menjadi sentra pembuatan gong di Surakarta. Roh gamelan telah member inspirasi bagi  para perajin gamelan untuk terus menghidupkan industri gamelan yang dirintis oleh Reso Wiguno, seorang penabuh gamelan di Mangkunagaran, di desa ini.

“Saya ingin gamelan tidak akan pernah mati di desa ini.  Sebab membuat gamelan itu sebenarnya bukan sekadar mencari penghasilan, namun juga melestarikan kesenian tradisional sehingga harus muncul generasi-generasi baru,” ujar Saroyo.(GNA)


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*