Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Gelaran Klenengan Selasa Legen untuk Ki Nartosabdo



ki-narto-sabdho

Balai Soedjatmoko kembali menyelenggarakan Klenengan Selasa Legen untuk mengenang dalang kondang Ki Nartosabdo. Acara yang menampilkan grup Karawitan PASRI dari Karangpandan-Karanganyar ini akan dilangsungkan pada hari Senin, 26 Januari 2015 mulai pukul 19.30 WIB di Balai Soedjatmoko.

PASRI (Paguyuban Swarawati Republik Indonesia) merupakan kelompok karawitan yang beranggotakan sinden se-Solo Raya. Dalam gelarannya di Balai Soedjatmoko edisi bulan Januari 2015 ini, para pesinden yang sekaligus penabuh gamelan tersebut akan menampilkan karya-karya Ki Nartasabdo.

Ki Nartosabdo yang bernama asli Sunarto lahir di Klaten, 25 Agustus 1925, adalah putra seorang perajin sarung keris bernama Partinoyo. Kehidupan masa kecilnya yang serba kekurangan membuat Soenarto putus sekolah dalam pendidikan formalnya, yaitu Standaard School Muhammadiyah.

Ki Nartosabdo selain dikenal sebagai seorang dalang, ia juga dikenal sebagai pencipta lagu-lagu Jawa yang sangat produktif. Melalui grup karawitan yang ia dirikan bernama Condong Raos, Ki Nartosabdo telah melahiran sekitar 319 buah judul lagu (lelagon) atau gendhing, antara lain Caping Gunung, Gambang Suling, Ibu Pertiwi, Klinci Ucul, Prahu Layar, Ngundhuh Layangan, Aja Diplèroki, Rujak Jeruk dan lain sebagainya.

Muncul pertama kali sebagai dalang pada tanggal 28 April 1958 di Gedung PTIK Jakarta yang disiarkan secara langsung oleh RRI. Lakon yang ia tempilkan saat itu adalah Kresna Duta. Penampilan perdana itu langsung mengangkat nama Ki Narto. Berturut-turut ia mendapat kesempatan mendalang di Solo, Surabaya, Yogya, dan seterusnya.

Banyak cerita wayang gubahan (carangan) hasil kreasi Ki Nartosabdo, semua itu ia dapatkan dari belajar sendiri (otodidak), sehingga banyak kalangan menilai bahwa Ki Nartosabdo adalah dalang yang kewahyon (mendapat wahyu). Pada saat itu Ki Narto sering mendapat kritik karena dianggap menyimpang dari pakem, berani menampilkan humor sebagai selingan dalam adegan keraton yang biasanya kaku dan formal.

Ki Nartosabdo dapat dikatakan sebagai pembaharu dunia pedalangan pada tahun 80-an. Gebrakannya dalam memasukkan gending-gending ciptaannya membuat banyak dalang senior yang memojokkannya. Bahkan ada RRI di salah satu kota memboikot hasil karyanya. Meskipun demikian dukungan juga mengalir antara lain dari dalang-dalang muda yang menginginkan pembaharuan di mana seni wayang hendaknya lebih luwes dan tidak kaku.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*