X
    Categories: Wisata

Industri Sangkar Burung Mojosongo Solo Menjelajah Indonesia

industri sangkar burung solo/Ilustrasi :

Siapa sangka pembuatan sangkar burung bisa menjadi bisnis yang sangat menjanjikan. Semua sangkar yang sudah selesai produksi selalu ludes terjual karena jumlah pemesan yang banyak. Dengan omzet sekitar 1 Milyar perbulan, menjadikan sentra industri sangkar burung Mojosongo menjadi salah satu industri yang sangat berkembang di kota Solo.

Hingga kini produk dari sentra industri sangkar burung Mojosongo telah merambah ke seluruh wilayah Indonesia. “Pulau Sumatera menjadi pasar terbesar kami. Banyak penggemar burung di Sumatra karena burung di sana bagus-bagus sehingga sangkar burung banyak dibutuhkan disana,” kata Bambang selaku Ketua Cluster Sangkar Burung Manunggal, seperti yang dilansir dari Terasolo.com, Selasa (22/1/2013). Ia bahkan mengaku kuwalahan atas pemenuhan permintaan pasar Indonesia yang sangat tinggi.

Awal Mula Berdirinya Industri Sangkar Burung Mojosongo

Sebelum resmi menjadi Sentra Industri Sangkar Burung Mojosongo pada tahun 2006, pembuatan sangkar burung di daerah ini tidak terkoordinasi dengan baik. “Tahun 2000-2002 sempat terjadi persaingan yang tidak sehat di sini. Para pengrajin saling membanting harga untuk mendapatkan konsumen yang lebih banyak,” tutur Bambang.

Sejak tahun 2002 dengan program pendampingan yang bekerja sama dengan pihak Pemerintah dan Universitas Sebelas Maret (UNS) Sentra Industri Sangkar Burung Mojosongo menerapkan sistem cluster. Terdapat empat cluster untuk daerah Utara, Timur, Selatan, dan Barat. “Dengan sistem ini para pengrajin saling terintegrasi, dalam satu cluster terdapat 20 orang pengrajin dengan spesifikasi kerja sendiri-sendiri, jadi tidak saling menjatuhkan,” jelas Bambang yang juga ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB).

Pengrajin sangkar burung di Mojosongo Solo /Sumber

Dari Sangkar Burung Murel, Kenari, sampai Lovebird

Salah satu cluster adalah Sangkar Manunggal . Sentra industri ini memproduksi tiga jenis sangkar, yaitu sangkar untuk burung murel, kenari, dan lovebird. Dalam sehari satu pengrajin bisa menghasilkan satu sangkar burung murel, atau tiga sangkar burung kenari, atau lima sangkar burung lovebird. Hal ini disesuaikan dengan spesifikasi kerja

Sangkar burung ini berbahan baku bambu dan dihargai Rp25.000 sampai Rp125.000 per buahnya. Untuk sangkar burung murel dipatok harga Rp125.000, sangkar burung kenari Rp40.000, dan sangkar burung lovebird Rp25.000. Dalam sehari satu cluster pengrajin mampu menghasilkan 40 sangkar burung. “Semua sangkar burung yang sudah jadi selalu ludes terjual karena jumlah pemesan yang sangat banyak,” ujar Bambang. Ia menjelaskan omzet cluster-nya per bulan bisa mencapai Rp 1 milyar lebih.

Fokus Garap Pasar Dalam Negeri

Industri sangkar burung Mojosongo sendiri masih memfokuskan untuk menggarap pasar dalam negeri. “Pasar dalam negeri masih sangat potensial. Selain itu, permintaan sangkar burung di luar negeri juga rendah dikarenakan burung merupakan satwa yang dilindungi di sana,” tutur Bambang.

Dalam pemasarannya, diakui bambang, Sangkar Manunggal tidak melakukan gencaran promosi dikarenakan permintaan yang sudah sangat tinggi. “Saya tidak melakukan promosi baik di internet maupun di dunia nyata karena kami sendiri sudah kesulitan memenuhi pesanan,” terang Bambang.

Kekurangan tenaga kerja dan bahan baku menjadi kendalanya. “Ke depan, kami akan fokus menambah tenaga kerja dulu untuk memenuhi permintaan pasar,” pungkas Bambang. (Sumber: Terasolo.com)

Baca juga : Kerajinan Topeng Klasik dari Bekonang

Sangkar Manunggal

Mojosongo, Jebres, Solo