Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Ini Dia, Profil Performer SIPA 2016 Asal Indonesia

Dewa Bujana - Performer sipa 2016

Solo International Performing Art (SIPA) kembali digelar tahun ini di Benteng Vastenburg Solo. Para Performer SIPA 2016 yang datang dari berbagai daerah di Indonesia dan mancanegara,  akan menghibur masyarakat maupun para wisatawan yang berkunjung ke Kota Solo.

Dengan mengangkat tema Mahaswara, keindahan suara tentang nilai-nilai kemanusiaan akan digelorakan dalam kemegahan panggung SIPA 2016. Para performer SIPA akan mengumandangkan keragaman spirit budaya masyarakat dari berbagai belahan dunia. Semua menyatu dalam keinginan dan harapan yang sama tentang Maha Swara.

Berikut ini profil para performer SIPA 2016 dari Indonesia :

KETENG-KETENG GIRLS, MEDAN

kenteng-kenteng girl - performer sipa 2016

Salah satu performer SIPA 2016 yang dihadirkan dari Karo, Medan, Sumatera Utara, adalah Keteng-Keteng Girls. Dalam kesenian tradisional Karo ada beberapa instrumen perkusi yang dipakai dalam bentuk ansambel. Salah satunya adalah keteng-keteng yang dipakai dalam ansambel Kulcapi. Kebiasaan masyarakat Karo khususnya dalam konteks adat, sebelumnya belum pernah ada pemusik wanita yang tergabung dalam ansambel musik.

Namun dalam konteks pertunjukan, Keteng-keteng Girls dianggap perlu tidak hanya dalam konteks bunyi. Wanita (ibu) yang sebenarnya punya pengaruh besar dalam perkembangan anak dalam hal ini identitas suatu etnis pasti memiliki rasa yang lebih mendalam terkait rasa. Keteng-keteng Girls diharapkan menjadi agent-agent yang mempertahan esensi tradisi itu dalam konteks bunyi dan “rasa”.

MAYA HASAN, JAKARTA

Maya Hasan - Performer sipa 2016

Maya Hasan dari Jakarta juga akan menjadi salah satu performer SIPA 2016. Sebagai seniwati muda berbakat harpa saat ini, Ia akan menampilkan karya-karyanya di Kota Bengawan.

Maya mulai tertarik dengan harpa sejak SMP dan belajar harpa dari Heidy Awuy. Memang saat itu di Indonesia hanya ada dua orang yang terbilang master harpa, yaitu Awuy dan Ussy Piters anggota TNT Orchestra.

Pada tahun 1990, Maya melanjutkan sekolah ke Willamette University, Salem, Oregon, Amerika Serikat, mengambil jurusan Harp Performance. Selama menuntut ilmu, Maya juga tergabung dalam The Salem Chambers Orchestra, Salem, Oregon, Amerika Serikat. Maya juga sempat mendapat beberapa penghargaan seperti The Music Talent Award, The Stannus Music Award, The Violet Burlingham M.P.E. Award, Golden Musician Award, News Music Award, perempuan Pilihan Metro TV, Indonesia Tattler Society, Ponds “Express to Impress”.

Sekembalinya ke Indonesia, Maya kerap diundang tampil bersama dengan beberapa orkestra musik klasik seperti Nusantara Chamber Orchestra, Twilite Orchestra, Malaysia Philharmonic Orchestra, Surabaya Symphony Orchestra, Erwin Gutawa Orchstra, dan The World Harp Ensemble bersama empat harpis dari Kanada, Jepang, Puerto Rico, dan Amerika Serikat, selain beberapa resital solo harpa maupun gabungan. Tak hanya berkiprah di dunia musik, Maya juga pernah menjajal akting dengan bermain dalam film layar lebar Koper (2006).

DEWA BUDJANA, JAKARTA

Dewa Bujana - Performer sipa 2016

Dewa Budjana dikenal tergabung dalam Gigi, pendiri band ikonik pada tahun 1994. Lebih dari dua puluh tahun kemudian, mereka masih tetap bertahan. Telah merilis 25 album sampai saat ini, dan memperkuat status mereka sebagai salah satu yang terbesar, band pop rock yang paling sukses di Indonesia. Ambisi Dewa pada instrumen alat musiknya melebihi kesuksesannya, ia telah merilis delapan album solo, menjelajahi dengan lebih berani ke jazz/fusion/sisi progresif.

Album mendatang akan dirilis dalam beberapa bulan yaitu merupakan album ganda, “Zentuary.” Pada kesempatan khusus ini Dewa bekerjasama dengan: legenda jazz modern yang ikonik, Jack Dejohnette; ikon rock progresif, Tony Levin, dan; multi-berbakat virtuoso, Gary Husband.

DUO UBIET & DIMAWAN, JAKARTA & YOGYAKARTA

duo ubiet - performer sipa 2016

Nyak Ina Raseuki atau lebih dikenal dengan sebuta Ubiet menyelesaikan pendidikan musiknya di Institut Kesenian Jakarta kemudian meraih gelar Master of Music dalam Etnomusikologi dari University of Wisconsin, Madison, Amerika Serikat, dan meraih gelar Doktor dalam Etnomusikologi dari universitas yang sama, dua-duanya lewat program beasiswa. Di tengah masa pendidikan, Ubiet antusias belajar seni vokal tradisional Indonesia maupun mancanegara terutama dari Afrika, Korea dan Spanyol. Apalagi di tengah itu ia bisa menemukan banyak hal unik.

Sebagai penyanyi, Ubiet menjelajahi berbagai jenis genre musik. Dari musik populer (pop dan jazz, misalnya), sampai dengan musik yang bertolak dari aneka khazanah tradisi Nusantara, dan musik kontemporer. Ia telah bekerja sama dengan sejumlah pemusik, grup musik, maupun komposer. Bersama Tony Prabowo, seorang komposer musik kontemporer Indonesia yang dikenal di khazanah dunia, terutama di Amerika Serikat, ia menghasilkan aneka pementasan dan rekaman. Album solo yang dihasilkannya antara lain: Archipelagongs (2000), Music for Solo Performer: Ubiet Sings Tony Prabowo (2006), Kroncong Tenggara (2007), Komposisi Delapan Cinta (2011) (Bersama Dian HP).

KOMUNITAS SENI TADULAKO, PALU

komunitas seni tadulako palu - performer sipa 2016

Komunitas Seni Tadulako didirikan oleh kalangan masyarakat yang peduli terhadap Pemberdayaan Manusia dan senibudaya dari suatu Komunitas Masyarakat Lokal/Asli. Pendirian lembaga ini berawal dari keinginan besar untuk melakukan pembangunan, pemberdayaan serta pengembangan Seni budaya yang sangat beragam di Sulawesi Tengah.

Pendirian Komunitas Seni Tadulako diprakarsai oleh Hapri Ika Poigi dan Zulkifly Pagessa sebagai manifestasi dari keinginan yang besar untuk berkarya. Sampai saat ini konsepsi yang diterapkan dalam pengembangan budaya materil dan ekspresif harus menggali kembali akar budaya yang ada di Sulawesi Tengah, sehingga riset dan study baik secara intuitif dan ekpresif maupun secara ilmiah menjadi dasar pijak bagi setiap garapan karya.

GONDRONG GUNARTO & FRIENDS (SOLO)

Gondrong Gunarto - performer sipa 2016

”Gondrong” sapaan akrab Gunarto adalah seorang musisi serta komposer yang lahir dan di besarkan dalam keluarga yang mempunyai latarbelakang seni tradisional, dia putera seorang dalang. Karena kemauan dan keingintahuan-nya yang besar, dia banyak belajar berbagai macam aliran musik di luar musik tradisional Jawa (seperti kombo band, keroncong, cross culture music, dsb) sehingga pengalaman tersebut membawa dia kedalam sebuah penciptaan musik “baru”.

Sejauh ini “Gondrong” telah banyak tampil baik di Indonesia maupun di luar negeri seperti Malaysia, Jerman, Jepang, Belanda, Amerika, Italia, Singapura, Spanyol dan Perancis. Gondrong telah membuat CD album musik The Works (2007) dan VCD konser tunggalnya Pancal Mubal Tangan Ngapal (2003) Dukkha, Gondrong Gunarto Music Consert (2013). Dengan kelompok Sono Seni Ensembel mengeluarkan empat album yaitu Suita Suit, Suita 42 Hari, Autis 4 J dan No End In Sight (2000-2006).

VIKY SIANIPAR, JAKARTA

vicky sianipar - performer sipa 2016

Viky memulai karir musiknya dengan memainkan lagu di banyak klub musik di Jakarta. Disitulah dia mulai mempunyai referensi gaya musik yang mematahkan pemikiran fanatiknya mengenai musik rock dan heavy metal yang dikenalnya sejak masa SMA. Karena ia tidak pernah belajar di sekolah musik formal, klub malam lah yang telah menjadi guru musik Vicky dengan memperkenalkan berbagai macam genre musik dari pop, jazz, R & B, dan hip hop.

Hasil eksplorasi Viky terhadap musik rakyat Batak telah menghasilkan lima seri album TobaDream termasuk didalamnya lagu rakyat tradisi dari Batak yang diaransemen ulang dan dikombinasikan dengan gaya musik barat. Viky berkolaborasi musisi tradisional untuk menjaga esensi rasa Batak dalam musiknya. Bagaimanapun juga, sebagian besar instrumen barat dari album TobaDream dimainkan oleh Viky sendiri.

GANGSADEWA, YOGYAKARTA

gangsadewa - performer sipa 2016

Gangsadewa adalah kelompok ansamble etnis kontemporer. Sebuah kelompok musisi yang memainkan berbagai instrumen etnik nusantara. Digagas oleh seorang komposer yang bernama Memet Chairul Slamet dengan mengusung genre kontemporer di setiap komposisi sisi garapannya.

Berdiri tahun 2004 dan telah melanglang buana sabagai duta seni budaya di mancanegara, serta telah membuat karya bersama/kolaborasi dengan composer manca maupun pelaku seni lintas disiplin baik nasional maupun internasional serta telah menghasilkan tiga album rekaman.

SRUTI RESPATI, SOLO

Sruti Respati - performer sipa 2016

Sruti Respati lahir di Solo, Jawa Tengah, dan sejak usia muda sudah mengakrabi dunia seni pertunjukan. Di dalam dirinya mengalir darah seni dari kedua orang tuanya. Ayahnya adalah seorang dalang wayang kulit dan ibunya merupakan penari. Karakternya yang unik dan kualitas suara di atas rata-rata membuatnya menjadi sosok yang mudah dikenali.

Sruti kerap diundang tampil menyanyi di berbagai ajang acara, diantaranya tampil dalam pentas Sruti Respati di Bentara Budaya Jakarta (2010), pembukaan SEA Games 2011, terlibat dalam konser A Masterpiece of Erwin Gutawa, tampil bersama Emerald band dalam Solo City Jazz 2012, berkolaborasi bersama Dewa Budjana dengan format kuartet akustik bersama ketiga musisi lainnya dalam panggung Salihara Jazz Buzz 2012, Java Jazz 2012 di Jakarta, Opera Jawa berjudul Selendang Merah yang disutradarai oleh Garin Nugroho di Solo, 7 April 2013 dan Jakarta, 13-14 April 2013, dan membantu beberapa project beberapa komposer kenamaan Indonesia, di antaranya adalah I Wayan Sadra (Suluk Hijau, berkolaborasi dengan WS Rendra (alm.), Sujiwo Tejo (Pengakuan Rahwana-Drama Musikal, Bengawan Solo-Tolu One mini album), Slamet Gundono, dan Danis Sugiyanto.

PENI CANDRA RINI, SOLO

Peni Candra Rini - performer sipa 2016

Peni Candra Rini merupakan seorang komposer, penulis lagu dan penyanyi (tradisional & kontemporer). Peni juga merupakan seorang pengajar di Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta program studi Karawitan. Penyanyi muda berbakat ini memiliki bakat yang sangat langka sebagai “sindhen” (penyanyi solo wanita yang bernyanyi dengan Gamelan).

Peni menyandang predikat sebagai sindhen muda terbaik pada pada acara “Seleksi pesindhen Remaja Se-Karisidenan Surakarta ” 19-20 Maret 2005 di Pendapi Gedhe Balaikota Surakarta. Peni juga menerima medali perak untuk pertunjukan vokal terbaik di Spring Friendship Art Festival di Pyong Yang, Korea Utara. Peni telah berpartisipasi dalam berbagai festival dan berkolaborasi dengan seniman yang berbeda dari seluruh dunia, beberapa diantaranya: Shadows Ballads, USA (2016), “Singing with your body and dance with your voice”, Ringling International Arts Festival, Florida USA (2015), Musik Direktor “ONTOSOROH” for Cinars Biennale, Montreal Canada (2014), World Gamelan Festival Terengganu (2012), Spoleto56 Festival Dei Due Mondi, Italia (2013), Jeonju International Sori Festival, Korea (2012).

ELLY D. LUTHAN (DLDC), JAKARTA

elly d luthan - performer sipa 2016

Elly D. Luthan adalah seorang seniman Indonesia yang berprofesi sebagai penata tari atau koreografer. Ia mengelola Deddy Luthan dance Company yang didirikan oleh suaminya, Deddy Luthan (alm) seorang penata tari ternama Indonesia. Dedy Lutan Dance Company (DLDC) sebagai komunitas seni secara konsisten mementaskan karya-karya yang diharapkan dapat mewakili sekaligus menjadi spirit dan kekuatan masyarakat dikhasanah budaya bangsa ini melalui kesenian. Melalui seni tari yang berbasis tari tradisi, besar harapan DLDC untuk turut berperan serta dalam membangun apresiasi masyarakat seni-budaya Indonesia.

Beberapa karya tari yang diciptakannya diantaranya: Perempuan Itu Ada (2005), Trisik Manyura (2005), Jakarta Kini Betawi Gue (2006), Drupadi (2008), Gendari (2009), Teater Tari Paregreg (2010), Dukkha (2012), Banowati Jalingan Golek (2012). Sebagai seorang seniman karya-karya tari Elly D. Lutan telah mendapat apresiasi yang sangat baik, diantaranya Karya Ramayana dalam Festival Ramayana Internasional di Bangkok Thailand pada tahun 1998, Kunti Pinilih yang dipentaskan di Het Muziek Theatre, Amsterdam Belanda tahun 2002 dan Tjut Nyak yang dipentaskan dalam Art Summit Festival tahun 2004.

TRODON, JAKARTA

trodon - performer sipa 2016

Trodon adalah nama baru bagi Tiamat yang lahir pada Januari 2013. Pada Januari 2014, Tiamat berganti nama menjadi Trodon. Sejak itu, mereka tak lagi memiliki nama yang sama dengan grup death metal asal Swedia. Nama grup ini diambil dari nama salah satu jenis dinosaurus, yakni Troodon, yang konon adalah jenis dinosaurus terpintar yang hidup di zaman Cretaceous. Mereka kerap memainkan karya instrumental yang dipengaruhi oleh jazz rock progresif, dengan kombinasi instrumen tidak lazim serta struktur musik yang kompleks. Karya-karya mereka yang berwatak progresif instrumental membuat mereka unik di panggung Indonesia saat ini. Trodon telah tampil di sejumlah panggung, di antaranya Rock Campus: Indonesia Maharddhika, Rolling Stone Cafe (2015), Music Is Music #4, Piston Brake Cafe (2014), Salihara Jazz Buzz – Jazz Sans Frontier (2016), semuanya di Jakarta. Pada kesempatan khusus ini, Trodon akan berkolaborasi dengan seniman dari Solo yaitu Fajar Satriyadi, Wirastuti Susilaningtyas dan Cahwati.

DJADUK FERIANTO & KUA ETNIKA, YOGYAKARTA

Djaduk dan kua etnika - performer sipa 2016

Gregorius Djaduk Ferianto yang lebih populer dengan nama Djaduk Ferianto ini adalah seorang aktor dan seniman musik Indonesia. Djaduk banyak belajar soal musik dan film dari dua tokoh perfilman legendaris, Teguh Karya dan Arifin C. Noer. Selain itu, ia secara khusus pergi ke Jepang untuk mempelajari teknik olah pernapasan dalam memainkan alat musik tiup. Ilmunya di bidang musik pun semakin bertambah saat ia belajar musik di New York.

Dalam bermusik, Djaduk lebih berkonsentrasi pada penggalian musik-musik tradisi. Djaduk adalah salah satu anggota dari kelompok musik Kua Etnika, musik humor Sinten Remen, dan Teater Gandrik. Selain bermusik, Djaduk juga menyutradarai beberapa pertunjukan teater dan menggarap ilustrasi musik untuk sinetron ditelevisi.
Kua Etnika didirikan oleh Djaduk Ferianto, Butet Kertaredjasa dan Purwanto pada tahun 1995 yang merupakan medan interaksi dari sejumlah pekerja seni: pemusik, penyair dna pemain teater. Dalam payung kelompok musik Kua Etnika, mereka melakukan penggalian musik-musik etnik, perkusif dan memadukannya dengan instrument elektrik.

Kua Etnika mengolah musik etnik dengan sentuhan atau nafas modern, tanpa harus kehilangan spirit dasarnya/spirit tradisi. Dalam prakteknya, pola-pola irama tradisi dikembangkan semakismal mungkin, sehingga diharapkan lahir musik etnik alternatif. Dasar keyakinan kerja kreatif itu ialah bahwa musik etnik di Indonesia, baik instrumen, melodi, maupun iramanya, senantiasa terbuka terhadap kemungkinan baru.

** sumber profil performer SIPA 2016 & foto : SIPA 2016


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*