Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Joget Amerta, Meditasi Gerak Ala Mbah Prapto

joget-Amerta-Mbah-Prapto
Mbah Prapto menari di depan Museum Radya Pustaka Solo

Suprapto Suryodarmo atau yang sering dikenal Mbah Prapto, merupakan seniman asal Solo yang banyak dikenal karena tariannya yang unik, Joget Amerta. Lewat “gerak bebas” , Mbah Prapto mengadopsi dari gerak sehar-hari, seperti tidur berikut perubahan posisinya, berjalan, merangkul, lambaian tangan dan sebagainya. Gerak-gerak informal itulah yang menjadi dasar dari joget amerta.

Mbah Prapto lebih senang menggunakan istilah joget dibanding tari untuk gerakannya. Disebut joget, karena lebih merujuk pada orang yang sedang belajar menari dari dasar. Dasar menari itu banyak, termasuk hal-gal di luar teknik gerak, seperti puasa , meditasi dan nglakoni.

Gerak dimaknai oleh Mbah Prapto sebagai bentuk transformasi yang beragam, perubahan dari ketidaksadaran menjadi kesadaaran, keberadaan menjadi ketidakberadaan dan lain sebagainya.

“Seperti orang baru bangun tidur, kadang dia ngulet (meluruskan otot tubuh). Kita sering lupa bahwa ngulet itu seperti nge-charge, sehingga kesadaran dan aliran darah kembali sempurna,” ujar pemimpin Padepokan Lemah Putih, Desa Gondangrejo, Karanganyar, Jawa Tengah, itu.

joget-Amerta-Mbah-Prapto
Mbah Prapto menari di depan Museum Radya Pustaka Solo

Secara filosofi Joget Amerta bertolak dari konsep tradisi, yaitu hubungan manusia, alam dan Tuhan. Transformasi harus selalu mengacu ke tiga hal itu. Sedangkan dari sisi bentuk, Joget Amerta adalah olah tubuh sehari-hari yang mengabaikan pakem yang selama ini berlaku dalam olah tubuh. Lewat Joget Amerta inilah ia mengajarkan murid-muridnya untuk merespon dirinya sendiri dan atmosfir di sekelilingnya.

“Jika sudah sampai pada tataran itu, penari akan merasakan transform. Joget yang dibawakan bisa menjadi terapi mengembalikan kondisi mati rasa,” lanjut pria yang pernah latihan di depan Piramid di Mesir itu.

Sejak kecil, Mbah prapto memang sudah gemar olah jiwa dan raga. Gerak tubuh dipelajari Mbah Prapto dari menari tari klasik jawa, dan mengikuti seni bela diri seperti silat dan kungfu. Sedangkan untuk seni olah jiwa ia sejak kecil sering mengikuti jejak ayahnya yang menganut aliran kepercayaan kejawen untuk laku prihatin dengan melakukan meditasi Buddhis (vipassana) serta relaksasi Jawa (sumarah) yang menurtnya sangat berguna untuk mengeksplorasi alam dan kesadaran.

“Itulah cara ayah mengenalkan saya sekaligus mendekatkan diri kepada Tuhan,” ujar Mbah Prapto di Taman Hiburan Sriwedari, Solo.

Kiprah kesenian Mbah Prapto diawali tahun 1966 ketika mendirikan grup Barada (binaraga budaya). Di tempat itu, ia melatih tari dan beladiri. Pada era tahun 1974-1975, ia menciptakan Wayang Budha yang menjadi pembicaraan banyak kalangan. Wayang Budha adalah pementasan wayang gaya baru yang menggabungkan seni rupa, musik dan dunia pewayangan.

Pentasnya ke Jerman (bersama koreografer Sardono W Kusuma) dalam Festival Pantomim Internasional tahun 1982 mempertemukannya dengan orang-orang yang memiliki pendekatan gerak bebas, sama dengan dirinya. Setiap tahun sejak lawatannya yang pertama itu, Mbah Prapto terus-menerus diundang untuk memberikan workshop dan mementaskan jogetnya di Eropa, Australia, Filipina, Korea, Jepang dan Amerika Serikat.

Ketika jaringannya mulai tersebar di banyak negara, tahun 1986 ia mendirikan Padepokan Lemah Putih, sebuah wadah untuk menampung murid-muridnya. Di padepokan itulah kemudian lahir komunitas Sharing Movemen. Istilah ini untuk menyebut teknik mengajar Mbah Prapto yang lebih banyak sharing.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*