Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Kisah Rara Beruk, Asal Mula Lahirnya Batik Motif Truntum



Kisah Rara Beruk, Asal Mula Lahirnya Batik Motif Truntum
Ilustrasi Rara Beruk

Serambi keputren suatu siang. Duduk di bawah tiang keputren, di antara angin yang bertiup pelan dari pohon-pohon tanjung di luar sana, Rara Beruk terlihat begitu asyik dengan canthing di tangannya. Sesekali jari lentik perempuan jelita itu mencelupkan canthing ke wajan kecil berisi malam yang mendidih, meniup ujung canthing, lalu menggoreskannya kembali ke kain lebar di depannya.Sejak masuk ke keputren beberapa tahun lalu, ia memang sangat senang jika para emban cethi mengajarinya membatik. saking senangnya dengan pelajaran membatik, sering ia mencuri waktu untuk sekadar mencoretkan canthing di sela-sela pelajaran yang lain, seperti nembang macapat atau menari srimpi.

Di serambi itu, Rara beruk terus saja mengguratkan canthing, seperti tak terusik dengan suara gaduh burung-burung merpati yang mematuki pasir halaman keputren.

“Ah, sebentar lagi batik ini akan selesai, ” Rara Beruk seperti bergumam pada dirinya sendiri.

Sebuah motif batik yang indah baru saja selesai. Di atas kain hitam legam itu, bunga-bunga tanjung yang keemasan seperti bertebaran. Entah dari mana Rara Beruk mendapat ide gambar yang demikian menawan itu.

Kisah Rara Beruk, Asal Mula Lahirnya Batik Motif Truntum
Ilustrasi Rara Beruk

Rara Beruk sendiri pun tak tahu, bagaimana persisnya ia menciptakan gambar-gambar yang mempesona itu. Dan ketika melihat gambar di atas kain jarik hitam itu, Sinuhun pun tergoda untuk menanyakan asal mulanya.

“Saya tidak tahu, Sinuhun. Saya hanya menggambar bunga-bunga tanjung yang jatuh ke pasir di halaman keputren ini. Saya bahkan belum sempat memberi nama gambar batik ini.”

Sang Raja terdiam sebentar. Lalu ia tersenyum, seperti baru saja mendaatkan wangsit.

“Namailah gambarmu itu truntum. Bunga-bunga itu seperti sedang menggambarkan perasaan sayangku kepadamu yang semakin nruntum (tumbuh berkembang) di hatiku.”

Wajah Rara Beruk langsung memerah mamu. Tapi, konon, demikianlah awal mula nama batik motif truntum yang terkenal itu diciptakan. Truntum yang secara harfiah mempunyai makna bersemi ini, konon sebagai ekspresi hati baginda yang sedang berbunga-bunga.

Batik motif truntum sendiri berupa gambar tebaran bunga tanjung keemasan, dengan dasar kain hitam legam. Motif ini juga mempunyai makna filosofi lain, yaitu manusia tidak akan lepas dari kegelapan, tapi setidaknya selalu ada terang dari bintang-bintang.

Rara Beruk pada akhirnya menunjukkan diri bukan sekadar selir biasa. Selain cerdas dan cekatan, perempuan anak jaga swara ini juga pintar melayani raja. Hingga suatu hari Sinuhun memintanya menjadi permaisuri kedua, setelah Kanjeng Ratu Hemas..

Konon, Rara Beruk menyanggupi permintaan raja, dengan syarat kelak putranyalah yang diangkat menjadi putra mahkota. Sebab, setelah bertahun-tahun, menjadi permaisuri pertama, Kanjeng Ratu Hemas tidak juga memberinya keturunan.

Sinuhun Paku Buwono III memang sudah mempunyai 16 anak, namun semuanya lahir dari para selir. bagaimanapun, sang raja prlu putra mahkota untuk memimpin kerajaannya. Atas pertimbangan itulah, PB III menyanggupi permintaan Rara Beruk. Dari Rara Beruk –setelah menjadi permaisuri bergelar Kanjeng Ratu Kencono– PB III dikaruniai seorang putra, Kanjeng Pangeran Purboyo, yang kelak menjadi Paku Buwono IV (1788).

Peran besar Rara Beruk, atau Kanjeng Ratu Kencono, terlihat ketika Kasunanan Surakarta pecah menjadi dua, lewat perjanjian Giyanti. Sesuai peranjian, kerajaan ini harus dibagi menjadi dua. Bukan hanya pundi-pundi emas, permata, dan pusaka, tapi juga kekayaan seni budaya.

Celakanya, seluruh koleksi batik Keraton Kasunan Surakarta dibawa ke keraton baru, Kasultanan Yogyakarta, hingga tak tersisa. Nah, di sinilah peran Rara Beruk. Pengetahuan dan perhatiannya yang besar terhadap batik menjadikan permaisuri kedua Paku Buwono III ini berperan penting membawa tradisi membatik ke dalam lingkungan keraton.

Lewat Rara Beruk, tradisi membatik yang biasanya dilakukan di luar keraton mulai disebarkan ke para abdi dalem. Menariknya, gaya dan motif batik tradisi baru ini sangat berbeda dengan batik-batik sebelumnya.

Batik-batik tradisi baru ini menjadi khas Solo, berbeda sekali dengan motif batik pendahulunya yang mulai muncul pada zaman Nyi Ageng Genis, leluhur mataram yang tak lain ibu dari Ki Ageng Pamanahan. Jika batik Genis lebih mengarah pada gaya geometris, maka batik solo tradisi Rara beruk lebih menekankan bulatan.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*