Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Kompleks Kedhaton Keraton Surakarta

Bangsal Maligi di kompleks Kedhaton Keraton Surakarta Hadiningrat
Bangsal Maligi di kompleks Kedhaton Keraton | foto : wikipedia.org

Kompleks Kedhaton Keraton Surakarta merupakan salah satu area inti dari seluruh bangunan keraton. Untuk memasuki area ini bisa melalui Kori Sri Manganti atau juga bisa melalui Museum Keraton. Di banyak area dalam kompleks ini tidak semua orang bisa mengakses, bahkan untuk wisatawan sendiri hanya diizinkan sampai halamannya saja.

Untuk wisatawan umum, di halaman ini pengunjung dapat menikmati hamparan luas pasir hitam yang ditumbuhi pohon Sawo Kecik (Manilkara kauki; Famili Sapotaceae) yang memiliki makna filosofis Sarwo Becik (Serba baik). Pohon Sawo Kecik ini ditanam pada masa PB IX yang sebelumnya terdiri dari berbagai pohon  seperti Jambu, Jamblang, dan pohon alasan lainnya.

Di halaman kedhaton Keraton Surakarta pengunjung bisa melihat secara langsung berbagai bangunan bersejarah di Keraton Kasunanan Surakarta. Bangunan-bangunan tersebut diantaranya Panggung Sangga Buwana, Bangsal Pradangga, Sasana Sewaka,  dan Sasana Handrawina.

Selain bangunan-bangunan tersebut, di kompleks Kedhaton Keraton Surakarta juga terdapat bangunan yang tidak semua orang boleh mengakses, diantaranya adalah Ndalem Ageng Prabasuyasa, Sasana Prabu, Sasana Putra, Keputren, dan bangunan lainnya.

Panggung Sangga Buwana

Panggung Sangga Buwana
Panggung Sangga Buwana

Panggung Sangga Buwana merupakan salah satu bangunan tertinggi di area Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Bangunan ini berbentuk menara segi delapan, terdiri dari lima lantai dengan ketinggian sekitar tiga puluh lima-an meter. Panggung Sangga Buwana terletak di dua halaman sekaligus yakni di halaman Sri Manganti dan halaman Kedhaton. Meski berada di dua halaman, namun pintu utama terletak di halaman Kedhaton.

Pada zaman dahulu Panggung Sangga Buwana digunakan untuk meditasi Susuhunan, untuk mengontrol keadaan wilayah keraton dan juga untuk mengawasi benteng VOC (Benteng Vastenburg) yang berada di depan Gapura Gladak Keraton. Selain itu bangunan ini juga digunakan untuk melihat posisi bulan dalam menentukan awal suatu bulan.

Pada puncak bangunan Panggung Sangga Buwana terdapat arah mata angin yang berbentuk naga yang dikendarai oleh manusia sambil memanah. Hiasan berupa arah mata angin ini merupakan sengkalan memet yang jika dibaca berbunyi Naga Muluk Tinitihan Janma (Naga=8, Muluk=0, Tinitihan=7, Janma=1), hal ini menunjukkan tahun berdirinya bangunan Panggung Sangga Buwana yaitu tahun 1708 Jawa atau 1782 Masehi.

Bangsal Bujana, Pradangga dan Musik

Bangsal-Bujana,-Pradangga-dan-Musik
Bangsal Bujana, Bangsal Pradangga dan Bangsal Musik

Di depan Sasana Sewaka terdapat tiga bangunan terbuka berjajar dari utara ke selatan. Ketiga bangunan tersebut bernama Bangsal Bujana, Bangsal Pradangga dan Bangsal MusikBangsal Bujana digunakan sebagai tempat menjamu pengikut tamu agung kerajaan, Bangsal Pradangga digunakan untuk menabuh gamelan, dan Bangsal Musik digunakan untuk pertunjukan musik orkestra.

Sasana Sewaka di Kedhaton Keraton Surakarta

sasana-sewaka-keraton-surakarta-hadiningrat
Sasana Sewaka | foto :solopos.com

Sasana Sewaka merupakan bangunan keraton yang digunakan sebagai tempat upacara adat seperti acara Tingalan Jumenengan maupun Garebeg. Bangunan ini dahulunya merupakan pendapa peninggalan istana Kartasura, namun sempat mengalami kebakaran pada tahun 1985. Nuansa Jawa-Eropa sangat terasa di kompleks ini, karena hampir di setiap sudut dihiasi dengan patung dan lampu hias bergaya eropa.

Arsitektur Sasana Sewaka dirancang menghadap ke timur sebagai perlambang kebesara raja. Bangunan ini dari timur ke barat terdiri dari lima bagian yakni Maligi, Paningrat, Pendhapa Ageng Sasana Sewaka, Paningrat Bedhayan, dan Sasana Parasedya.

Sasana Handrawina

Sasana-Handrawina-Keraton-Kasunanan-Surakarta
Sasana Handrawina

Sasana Handrawina merupakan bangunan yang terletak di sebelah selatan Sasana Sewaka. Tempat ini dibangun pada masa PB V. dan digunakan untuk perjamuan raja. Selain difungsikan sebagai gala dinner tamu asing yang datang ke Keraton Surakarta, Sasana Handrawina juga sering digunakan sebagi tempat seminar, gathering, dan acara untuk umum lainnya.

Sasana Pustaka

Sasana Pustaka merupakan perpustakaan keraton yang didalmnya terdapat buku-buku dan berbagai lukisan koleksi keraton maupun hadiah dari tamu yang berkunjung ke keraton. Sasana Pustaka terletak di sebelah selatan Sasana Andrawina dalam kompleks Kedhaton Keraton Surakarta, bangunan ini terdiri dari dua lantai dan tidak semua orang dapat mengakses Sasana Pustaka ini.

Ndalem Ageng Prabasuyasa

Di sebelah barat Sasana Sewaka terdapat bangunan privat berupa Ndalem Ageng Prabasuyasa. Bangunan inti yang menjadi pusat dari seluruh Keraton Surakarta Hadiningrat ini, disemayamkan berbagai pusaka kerajaan dan juga tahta raja yang menjadi simbol kebesaran kerajaan. Di lokasi ini pula seorang raja bersumpah ketika mulai bertahta sebelum upacara pemahkotaan dihadapan khalayak di Sitihinggil utara.

Langen Katong

Langen Katong merupakan bangunan yang berbentuk figur Gajah Ngombe, mengacu pada sosok Dewa Ganesa yang menyimbolkan ilmu pengetahuan. Bangunan ini digunakan oleh raja untuk berkarya dan mencari inspirasi, baik yang berupa karya sastra, gendhing, tari, ornamen kerajinan dan lain sebagainya. Nama Langen Katong sendiri berasal dari kata Langen yang berarti kesukaan dan Katong yang berarti Raja.  Bangunan ini sebelumnya bernama Bangsal Wewurungan.

Masjid Pudyasana

Masjid Pudyasana merupakan masjid khusus keluarga raja. Masjid ini selain digunakan untuk sholat lima waktu juga digunakan sebagai area, mensucikan jenasah khusus bagi raja-raja Kasunanan Surakarta. Dikutip dari Pustaka Sri Radyalaksana (Prajaduta, 1939), Masjid Pudyasana dulunya bernama Masjid Suranatan Panepen, penggantian nama ini dilakukan pada hari Kamis 18 Mulud 1842.

Kaputren

Kaputren merupakan tempat khusus yang diperuntukan bagi para garwo ampeyan atau selir raja  beserta putra-putrinya yang belum akhil balik. Jika para putra sudah mengalami akhil balik, mereka tidak diijinkan untuk tinggal di kaputren tetapi harus pindah ke tempat khusus pria.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*