Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Macapat Pangkur, Meninggalkan Urusan Duniawi

macapat pangkur

Tembang macapat Pangkur bagi orang jawa sering dimaknai sebagai proses mengurangi hawa nafsu dan mungkur dari urusan duniawi. Dalam tahap ini, manusia sudah memasuki usia senja dimana sesorang akan “berkaca” tentang dirinya, tentang masa lalunya, tentang pribadi dan Tuhannya dan lain sebagainya.

Pangkur yang juga berarti mungkur (mundur/mengundurkan diri), memberi gambaran bahwa manusia mempunyai fase dimana ia akan mulai mundur dari kehidupan ragawi dan menuju kehidupan jiwa atau spiritualnya.

Tembang macapat Pangkur banyak digunakan pada tembang-tembang yang bernuansa Pitutur (nasihat), pertemanan, dan sayang. Dalam tembang ini juga berbicara tentang kegembiraan dan pengendalia hawa nafsu. Meski demikian tembang macapat Pangkur juga sering digunakan dalam tembang-tembang asmara.

Ciri dari tembang macapat Pangkur diantaranya :

  1. Memiliki Guru Gatra : 8 baris setiap bait
  2. Memiliki Guru Wilangan : 8, 11, 8, 7, 12, 8, 8 (artinya baris pertama terdiri dari 7 suku kata, baris kedua berisi 8 suku kata, dan seterusnya…)
  3. Memiliki Guru Lagu : a, i, u, a, u, a, i (artinya baris pertama berakhir dengan vokal a, baris kedua berakhir vokal i, dst..)

Contoh tembang macapat Pangkur :

PANGKUR DHADHAP KASMARAN

Baca juga : Contoh Tembang Macapat Pangkur dan Artinya

Setelah tembang macapat Pangkur, tembang berikutnya adalah tembang macapat Megatruh, yang berarti berpisahnya raga dan ruh. Tembang macapat lainnya dapat di lihat dalam artikel : Tembang Macapat, Tembang Jawa Kaya Makna


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*