Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Membaca Jejak Manusia Purba di Museum Sangiran



museum-sangiran

Berkunjung ke Solo akan terasa kurang lengkap jika tidak menengok Museum Sangiran, sebuah museum manusia purba yang terletak di daerah Sangiran, Kabupaten Sragen, Jawa Tengah.

Di dalam museum Sangiran tersimpan lebih dari 3.000 fosil yang ditata secara rapi di bangunan tiga lantai. Fosil-fosil tersebut antara lain fosil manusia, hewan darat dan laut, tumbuhan, batu-batuan, sedimen tanah, dan peralatan batu purba yang hidup dan ada pada sekitar 800.000 sampai 250.000 tahun lalu.

Beberapa di antaranya adalah tanduk banteng purba, tulang paha dan kepala gajah purba, kepala buaya purba, dan diorama kehidupan homo erectus Sangiran pada 500.000 tahun lalu. Juga prototipe Manusia Flores (Sangiran 17) yang merupakan karya terbaik Elisabeth Daynes, Harry Widianto, dan Dominique Grimaud-Herve.

Von Koenigswald seorang paleontolog dan geolog berdarah Jerman-Belanda merupakan orang yang pertama kali menemukan fosil peralatan batu purba di Sangiran, penemuan tersebut merupakan hasil dari penelitiannya yang dilakukan pada tahun 1934.

Etalase manusia purba di Museum Sangiran
Etalase manusia purba di Museum Sangiran

Dua tahun setelah temuan Koenigswald,  seorang warga setempat menemukan rahang bawah fosil manusia purba di lapisan Pucangan Atas di Sangiran. Sejak itu fosil-fosil lain pun mulai bermunculan di kawasan  seluas 56 kilometer persegi yang mencakup wilayah dua kabupaten, yaitu Sragen dan Karanganyar, Jawa Tengah, ini.

Dari catatan Museum Sangiran, Homo Erectus mendiami Sangiran  sejak awal zaman Plestosen hingga akhir Plestosen Tengah (sekitar 1,8 juta tahun lalu hingga ratusan ribu tahun lalu). Manusia purba ini berasal dari Afrika, dan sejak 2,5 juta tahun lalu meninggalkan daratan Afrika, menyebar ke berbagai daratan.

Mereka mendiami Sangiran setelah air laut surut. Fosil kura-kura, herbivora, gajah jenis stegedon, babi, dan monyet yang ditemukan di lapisan Pucangan-terbentuk sekitar 1,7 juta tahun lalu-menjadi bahan makanan pokok, selain biota rawa dan tumbuhan yang ada di sekitarnya.

Koleksi-koleksi dipajang di tiga ruangan Museum Sangiran, koleksi tersebut berupa ruang pameran, diorama, dan data. Museum Sangiran juga menyediakan ruangan audio visual mengenai proses evolusi manusia (animasi) yang  mengikuti kaidah survival of the fittest menurut teori evolusi Charles Darwin.

Selain dapat belajar banyak hal tentang sejarah manusia di Museum Sangiran, para pengunjung juga dapat berbelanja oleh-oleh berupa souvenir museum. Souvenir ini dibuat oleh sebanyak 75 perajin yang tergabung dalam kelompok-kelompok kecil di bawah Kelompok Ekonomi Kreatif Sangiran.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*