X
    Categories: Seni Budaya

Mengenal Batik Indonesia Rancangan Go Tik Swan

Batik Indonesia

TIDAK banyak seniman batik yang memiliki identitas atau kekhasan pada desainnya. Dari yang sedikit itu, salah satunya adalah Go Tik Swan Hardjonagoro. Ia seorang legenda batik asal Solo yang menciptakan batik Indonesia – perpaduan motif dan teknik pewarnaan gaya klasik dengan gaya pesisir.

Titik balik Go Tik Swan sebagai seniman batik dimulai dari  perjumpaannya dengan Presiden Soekarno tahun 1955. Go Tik Swan yang ketika itu masih menjadi mahasiswa Universitas Indonesia (UI) menari menampilkantarian Gambir Anom di Istana Negara.

Terkesan oleh penampilan Go Tik Swan, Soekarno mengajaknya  berbincang-bincang. Soekano kemudian tahu bahwa Go Tik Swan ternyata juga memiliki ketertarikan dengan batik. Soekarno yang sedang membangun idealisme persatuan kemudian meminta Go Tik Swan mewujudkannya dalam satu desain batik.

Maka, lahirlah desain batik Indonesia, desain batik yang  bukan Solo, Yogya, Pekalongan, Cirebon, Lasem, dan lain-lainnya, tapi merupakan gabungan batik-batik di Indonesia yang akan menjadi ciri khas Indonesia. Batik Sawunggaling, Rengga Puspita, Kembang Bangah Kuntul Nglayang adalah beberapa motif ciptaan Go Tik Swan (GTS) yang memperkaya khazanah batik Indonesia. Bahkan, motif Sawunggaling yang berupa pertarungan sepasang ayam jantan dianggap sebagai masterpiece sang legenda yang juga menjadi must have item para pencinta batik.

Batik Motif Sawunggaling

Sampai sekarang, desain batik Go Tik Swan dikenal sebagai batik premium sehingga tak banyak orang bisa memilikinya. Batik rancangan Go Tik Swan mulai diproduksi tahun 1960, di sebuah rumah berarsitektur art deco yang kini dikenal sebagai Dalem Hardjonegaran, di Jalan Yos Sudarso, Solo.

Rumah yang menempati bidang tanah seluas 2.000 meter persegi (yang kini menjadi cagar budaya)  ini terdiri dari rumah utama dengan teras belakang berbentuk setengah lingkaran yang desainnya dibuat oleh Presiden Soekarno.

Di belakang rumah utama ada beberapa bangunan pendopo berlantai semen. Di sinilah batik-batik GTS terus dibuat sejak awal kelahirannya hingga kini. Ibu-ibu pembatiknya sebagian telah berusia lanjut. Salah satunya adalah Mbok Jinah, yang kini telah berusia 82 tahun. Ia dengan telaten menggerakkan canting sejak pagi hingga sore hari, menelusuri pola corak batik peninggalan sang legenda.

Semasa hidupnya, setidaknya pada periode 1950-2008, Go Tik Swan atau Panembahan Hardjonagoro telah menciptakan  menciptakan sekitar 200 motif batik –Go Tik Swan menamakan Batik Indonesia. Batik ciptaannya merupakan perpaduan multi warna antara batik Solo yang didominasi hitam dan cokelat, dengan daerah pesisir yang memiliki warna cerah.

Menurut Siti Supiyah Anggriyani, pewaris  dan sekaligus pengelola Batik Indonesia, Go Tik Swan sempat belajar membatik langsung dari ibunda Susuhunan Paku Buwono XII yang memiliki pola batik pusaka yang pada jamannya tidak pernah dikenal umum.

Supiyah menambahkan sebelum mengembangkan batik keraton, Go Tik Swan mempelajari semua batik di Indonesia. Hasil penjelajahan dan kreasinya itu adalah Batik Indonesia  yang bercirikan warna-warna baru yang cerah, bukan hanya cokelat, biru, dan putih kekuningan seperti lazimnya dijumpai pada batik Solo dan Yogyakarta. Inspirasi warna-warna cerah, kata Supiyah,  konon didapat Go Tik Swan dari Ibu Soed, pencipta lagu Indonesia yang juga dikenal piawai dalam seni batik.

“Batik Indonesia lahir karena permintaan Presiden Soekarno setelah melihat batik karyanya. Pak Karno meminta pada Go Tik Swan untuk membuat karya batik Indonesia yang berbeda dengan motif batik Solo, Yogyakarta, Pekalongan, ataupun daerah lain,” ujar Supiyah.

Secara filosofi penciptaan, menurut Supiyah, Go Tik Swan menerapkan konsep nunggak semi, yaitu sebuah konsep pengembangan kebudayaan yang didasarkan pada pokok (tonggak) kebudayaan lama. Dengan kata lain, karya yang baru diciptakan berdasarkan karya-karya lama.

Supiyah mencontohkan beberapa motif Batik Indonesia karya Go Tik Swan antara lain, Kembang Bangah, Radyo Kusumo, Kuntul Nglayang, Kutila Peksawani, Sawunggaling, Sedebyah, Parang Anggrek, dan Parang Mega Kusumo yang khusus diciptakan untuk mantan Presiden Megawati.

“Jadi begini, Batik Indonesia itu perpaduan motif lama dengan sentuhan baru. Setiap pola dan motifnya ada filosofinya. Sekarang ini motif tinggalan Panembahan ada sekitar 200,” tutur Supiyah.

Pembatik di rumah Go Tik Swan

Batik karya Go Tik Swan selama ini banyakdikoleksi oleh sejmlah tokoh nasional, kalangan pejabat negara, pengusaha, dan para duta besar. Karyanya juga menjadi koleksi museum-museum di Eropa, Amerika, Australia, dan kolektor batik dunia.

“Untuk menjaga kualitas, kami memang tidak memproduksi massal. Butuh waktu empat sampai lima bulan untuk membuat satu kain. Setahun paling hanya memproduksi 12 kain,” ujar Supiyah didampingi suaminya, Kanjeng Raden Aryo (KRA) Hardjosoewarno.

Supiyah dan Hardjosoewarno merupakan ahli waris Go Tik Swan yang kini menempati Ndalem Hardjonagaran –rumah peninggalan Go Tik Swan. Di rumah seluas 2.030 meter persegi itulah keduanya menghidupkan kembali aktivitas membatik.

Di rumah tua itu, setiap hari ada sekitar 6-7 pembatik yang bekerja. Semuanya adalah para wanita dan pembatik tulis dengan usia rata-rata di atas 60 tahun. Menurut Supiyah, sekarang ini sulit mencari pembatik muda.

“Anak-anak muda lebih suka menjadi sales, pelayan toko atau mal, dan buruh pabrik. Kami agak kesulitan untuk regenerasi,” ujar Supiyah.

Padahal, Supiyah mengaku rumah industrinya terbuka menerima kalangan muda yang ingin belajar membatik. Supiyah juga juga membuka kesempatan nyantrik atau magang sebelum akhirnya menjadi pembatik profesional.

“Sebenarnya banyak juga siswa SMA dan mahasiswa yag belajar membatik di sini. Tapi itu hanya untuk kepentingan tugas-tugas sekolah atau kuliah. Setelah lulus mereka tidak melanjutkan belajar membatik lagi,” jelas dia.

Sementara itu, Hardjosoewarno mengungkapkan dirinya tidak akan mengembangkan rumah industri Batik Indonesia menjadi pabrik besar dengan banyak outlet. Menurut dia, pabrik besar akan menjadikan hasil produksinya tidak ekslusif dan akan mengurangi kualitas karya.

“Kalau terlalu banyak di pasaran nanti malah tidak eksklusif. Produksi Batik Indonesia memang dibuat terbatas. Bahkan untuk bisa membelinya seringkali harus inden karena dibuat secara khusus,” kata pria yang juga menggeluti dunia perkerisan itu.

Pria yang mengabdi pada Go Tik Swan selama lebih dari 40 tahun itu akan memproduksi batik dengan motif-motif karya Sang Panembahan. Menurut dia, Go Tik Swan sudah meninggalkan warisan yang sangat berharga sehingga dia dan istrinya merasa memiliki kewajiban untuk melestarikannya.

Motif-motif ini masih diproduksi hingga sekarang. Hardjosoewarno mengaku tidak pernah mengubah motifnya, keciali hanya melakukan pengolahan warna atau mengubah latarnya saja. Dia juga tidak perlu membuka butik atau showroom khusus untuk memasarkan Batik Indonesia karena mereka sudah memiliki langganan tetap.

Salah satu batik rancangan Go Tik Swan

Setiap motif yang diciptakan Go Tik Swan, lanjut Hardjosoewarno, selalu memiliki makna simbolik. Hardjosoewarno menyebut salah satunya adalah motif Batik Kembang Bangah yang berarti bunga yang berbau busuk. Motif itu diciptakan Go Tik Swan sebagai ungkapan protes terhadap pemerintah yang tidak memihak rakyat tetapi memihak kaum kapitalis. Motif Kembang Bangah sering kali menjadi perbincangan dalam diskusi soal batik.

Hardjosoewarno dan Supiyah menegaskan Go Tik Swan merupakan pelopor Batik Indonesia. Diakui atau tidak, Go Tik Swan telah mengenalkan batik baru di luar batik Solo, Yogyakarta, Pekalongan, Lasem (Rembang), dan batik-batik dari daerah lain.

“Batik ini perpaduan antara batik gaya klasik kraton dan gaya pesisir utara. Kita akan temukan perkawinan teknik sogan dengan pewarnaan multiwarna khas pesisir pada Batik Indonesia,” ujar Supyiyah yang sudah puluhan tahun menjadi pembatik Go Tik Swan.

Selain Go Tik Swan?

“Ada beberapa tokoh batik di Indonesia yang patut disebut, antara lain Bagong Kussudiarjo dan Ibu Soed,” kata dia.(*)