Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Menyusuri Lorong Kampung Batik Laweyan



IMG_4446

Kampung Batik Laweyan terletak di sisi selatan Kota Solo, Jawa Tengah, berbatasan dengan Kabupaten Sukoharjo. Kampung ini istimewa bukan semata-mata karena merupakan kampung tua yang eksotis, tapi juga karena menyimpan jejak panjang industri batik di Solo. Pada awal abad ke-20, Kampung Batik Laweyan pernah mengalami masa kejayaan sebagai kampung saudagar batik pribumi.

Di kawasan Laweyan pula berdiri Syarekat Dagang Islam, asosiasi dagang pertama yang didirikan oleh tokoh pejuang kemerdekaan, Samanhudi, bersama para saudagar batik pribumi, tahun 1912. Masa tahun 1900 sampai 1970 adalah masa kejayaan para saudagar (pengusaha) batik pribumi Laweyan.

“Sepanjang masa keemasan itu bermunculan juragan-juragan (pengusaha) besar yang bergelut di bidang batik. Juragan perempuan biasa disebut Mbok Mase, sedangkan yang laki-laki dipanggil Mas Nganten,” kata Ketua Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan (FPKBL), Alpha Fabela Priyatmono.

Buku “Mbok Mase, Pengusaha Batik di Laweyan Solo Awal Abad 20” yang ditulis oleh Soedarmono, sejarawan Universites Negeri Sebelas Maret (UNS) Surakarta, kejayaan Laweyan sebagai kampung batik bisa dilihat dari bermacam-macam motif batik yang kemudian dikenal sebagai motif batik Solo, seperti Parang Kusumo, Parang Kembang, Parang Rusak, Parang Barong, Truntum, Srikaton, Satrio Manah, Wahyu Jati, dan Tejo Kusumo.

pengrajin-batik-di-Kampung-Batik-Laweyan
Pengrajin di Kampung Batik Laweyan sedang membatik

Namun, masa keemasan industri batik Laweyan terhempas dengan masuknya teknologi batik printing dari China sekitar tahun 1970. Berbeda dengan batik cap dan batik tulis, tekonologi printing berorientasi pada produksi massal. Lewat teknologi ini, ratusan kodi kain batik bisa diproduksi setiap hari. Di sisi lain, batik cap hanya bisa dibuat sebanyak 20 kodi sampai 30 kodi sehari. Batik tulis lebih celaka lagi karena membutuhkan waktu 2 bulan sampai empat bulan untuk menyelesaikan selembar kain batik.

“Ketika kapitalisme masuk lewat industri batik printing, batik Laweyan benar-benar tidak berkutik. Masa keemasan batik di kampung Laweyan runtuh dan Mbok Mase -sebutan untuk saudagar perempuan batik di Laweyan- pun tinggal sejarah,” ujar Soedharmono.

Akibat serbuan batik printing, menurut Alpha, selama hampir 30 tahun Laweyan tak ubahnya kampung mati. Periode tahun 1970 sampai tahun 2000 hampir tak ada kegiatan membatik di kampung tua ini.

“Usaha batik berhenti, karena hampir tidak ada anak-anak yang melanjutkan usaha batik milik orang tuanya. Jika pun ada yang melanjutkan usaha, hasilnya hanya cukup untuk makan. Banyak warga Kampung Batik Laweyan yang kemudian merantau, bekerja di perusahaan swasta atau instansi pemerintah,” ujar Alpha yang dosen arsitektur di Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS).

Alhasil, selama hampir 30 tahun pula kampung Laweyan hanya menyisakan masa kejayaan para saudagar batik pribumi tempo dulu; lorong-lorong sempit dengan tembok tinggi yang kusam, rumah-rumah tua tradisional gaya Jawa, Eropa (Indisch), China dan Islam. Uniknya, banyak rumah yang dilengkapi bunker (lorong bawah tanah) yang saling menyambung dengan rumah tetangga.

“Di bunker ini para saudagar zaman dulu menyimpan kekayaannya. Bunker ini juga sering digunakan sebagai jalan darurat untuk lari dari kejarani tentara Belanda,” tambah Alpha.

lorong kampung batik laweyan
Salah satu lorong di Kampung Batik Laweyan

Menelusuri lorong-lorong sempit di antara tembok tinggi seperti berjalan di antara monumen sejarah kejayaan pedagang batik tempo dulu. Sampai akhirnya, memori kejayaan kampung Laweyan tempo dulu mengusik sebagian kecil kalangan muda Laweyan untuk membangkitkan kembali masa keemasan itu dengan konsep pariwisata. Dengan konsep ini, Kampung Batik Laweyan tak hanya menawarkan batik namun juga wisata heritage.

Seorang pengusaha batik di Laweyan, Muhammad Gunawan Nizar, menuturkan bagaimana dirinya dan beberapa pengusaha mengagunkan sertifikat rumah ke bank agar mendapatkan dana untuk memulai produksi batik. Dengan dana pinjaman, mereka memperbaiki beberapa peralatan produksi batik agar bisa digunakan kembali, menyulap ruang depan rumah menjadi gerai, dan tentu saja untuk membayar upah para pekerja.

“Beberapa pengusaha menyiapkan produksi, sementara untuk heritage kawasan Kampung Batik Laweyan kami tawarkan ke Pemerintah Kota Surakarta. Empat tahun kemudian Pemerintah Kota Surakarta baru merespon konsep wisata heritage yang kami tawarkan,” kata Gunawan.

Bentuk respon itu adalah dengan melakukan konservasi terhadap 30 rumah kuno yang memiliki nilai sejarah dalam perkembangan batik di Laweyan untuk mendukung pengembangan wisata heritage di kampung ini. Kementerian Negara Perumahan Rakyat pun mengucurkan dana sekitar Rp 600 juta untuk proses konservasi. Pemkot Surakarta bahkan menggelontorkan dana Rp200 miliar untuk penataan lingkungan Kampung Batik Laweyan.

Jalan-jalan di Kampung Batik Laweyan
Jalan-jalan di Kampung Batik Laweyan

“Kampung Laweyan kami rancang menjadi salah satu ikon yang mendukung Solo sebagai kota wisata belanja dan heritage. Kami hanya menghidupkan apa yang sudah ada,” kata Walikota Surakarta Joko Widodo.

Untuk melengkapi heritage Laweyan, Krisnina Akbar Tandjung melalui Yayasan Warna Warni pun memprakarsai pendirian Museum Haji Samanhudi. Di museum ini ditampilkan beberapa fragmen tentang industri batik awal abad 20, foto-foto Kampung Laweyan, serta foto Haji Samanhudi muda ketika terlibat dalam industri perdagangan batik.

Tahun 2004, Laweyan pun dicanangkan sebagai kampung batik oleh Pemerintah Kota Surakarta. Payung hukum pun diberikan terhadap karya cipta batik. Saat ini sebanyak 215 motif batik dari Kampung Batik Laweyan sudah dipatenkan.

Kini, suasana Kampung Batik Laweyan sangat berbeda dengan suasana pada delapan tahun lalu. Dari 8 pengusaha batik yang tersisa pada tahun 2004, kini sebanyak 90 kepala keluarga dari 110 kepala keluarga di kampung Laweyan adalah pengusaha batik. Sedangkan 20 kepala keluarga lainnya bekerja sebagai buruh batik (pembatik), baik batik cap, printing, maupun batik tulis.

Batik cap dibuat dengan teknik cap (semacam stempel besar). Pembatik tinggal menekan kuat-kuat cap bermotif batik yang sudah diberi malam (lilin batik) cair, ke atas kain. Sedangkan yang dimaksud batik printing adalah batik sablon. Sementara untuk batik tulis, si pembatik melukis kain secara manual dengan canting (alat untuk membatik).

Kampung Laweyan pun kembali menggeliat. Biro-biro perjalanan berdatangan untuk menjalin kerja sama dengan Forum Pengembangan Kampung Batik Laweyan. Wisatawan, baik lokal maupun asing, datang ke kampung Laweyan bukan sekadar belanja batik, namun juga melihat proses pembuatan batik sekalgus belajar membatik secara langsung.

“Mereka juga bisa homestay di Kampung Batik Laweyan untuk menikmati wisata heritage yang kami tawarkan,” ujar Alpha.

Maka, rumah-rumah industri batik di kampung Laweyan kembali hidup. Di sepanjang jalan kampung muncul showroom atau gerai-gerai batik. Batik tak hanya melulu ditorehkan pada kain, baju dan kaos, tetapi juga merambah dalam bentuk handicraft dan souvenir. Menurut Alpha, hidupnya industri batik di kampung Laweyan kini telah menyerap lebih dari 1.000 pekerja dengan upah antara Rp 40 ribu hingga Rp 60 ribu per hari.

“Untuk pengusahanya, setiap bulan rata-rata bisa mencapai omset penjualan antara Rp 50 juta hingga Rp 75 juta. Delapan tahun lalu, omset pengusaha tak sampai Rp 3 juta per bulan,” jelas Appha.

Kini, rumah-rumah besar di Kampung Batik Laweyan yang dulunya terkesan kaku dan tertutup selalu terbuka. Di ruang-ruang belakang rumah kembali terlihat para perempuan tengah duduk penuh konsentrasi di depan kain panjang dan lebar. Tangan kiri mereka memegang kain yang disampirkan ke gantungan, sementara tangan satunya menorehkan malam (lilin batik) dengan canting. Di bagian lain ruangan beberapa lelaki membatik dengan cap. Aroma malam yang dibakar meruap seperti membawa kejayaan Laweyan masalalu kemasa sekarang.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*