Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Museum Danarhadi, Menjaga Batik Indonesia



MUSEUM-BATIK7
Museum Batik

Museum Danarhadi didirikan oleh Santosa Doellah, pemilik perusahaan batik besar PT Danarhadi, bersama istrinya, Danarsih. Terletak di sisi Jalan Slamet Riyadi, Solo, Jawa Tengah, museum yang dikenal dengan nama Dalem Wuryaningratan ini merupakan museum batik terlengkap di Indonesia.

Betapa tidak. Di museum Danarhadi ini tersimpan lebih dari 10.000 lembar kain batik dengan masa pembuatan antara tahun 1840 sampai 1910. Dari jumlah itu, sebanyak 1.500 potong di antaranya diperoleh langsung dari koleksi pribadi seorang kurator Museum Troupen, Belanda.

“Selama 30 tahun saya mengumpulkan kain-kain ini. Saya terobsesi untuk melestarikan dan mengembangkan seni kerajinan batik ke dunia,” kata Santosa yang tahun lalu mendapat gelar empu batik dari Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta.

Menariknya, meski koleksi museum Danarhadi ini memiliki nilai jual yang tinggi, namun Santosa tak akan pernah menjualnya dengan harga berapa pun.

“Untuk urusan jual beli sudah ada danarhadi. Lewat museum ini saya ingin menyumbangkan sesuatu yang bernilai terhadap seni tradisional agar generasi mendatang tahu batik.”

Di museum yang diresmikan Megawati Sukarno Putri, Oktober tahun 2000 lalu ini tersimpan koleksi batik kelas adiluhung, seperti Batik Belanda, Cina, Jawa, Karaton, Hakokai, Batik pengaruh India, pengaruh Karaton, Batik Saudagaran, Batik Petani, dan Batik Danar Hadi sendiri.

“Karena jumlah kainnya sangat banyak, maka dipajang secara bergiliran. Setiap tujuh sampai sembilan bulan sekali koleksi-koleksi pajangan ini diganti,” jelas juru bicara museum Danarhadi, Ray Febri Hapsari Dipokusumo.

MUSEUM-BATIK7
Museum Batik 

Sebagian besar koleksi museum ini, terutama batik-batik tua, dibuat khusus untuk kaum bangsawan. Dulu, semasa Kraton Kasunanan Surakarta masih Berjaya, banyak dari motif batik di museum Danarhadi yang dilarang untuk dikenakan masyarakat awam karena dianggap sakral. Batik-batik itu pada zamannya hanya dibuat khusus untuk para raja atau bangsawan tinggi setingkat adipati dan pangeran. Pada masa itu, motif-motif khusus itu merupakan batik sengkeran (larangan) yang dilarang keras dikenakan oleh orang awam, misalnya, motif Parang Barong, Udan Liris, Semen Ageng, dan Semen Gurda.

Dari catatan museum Danarhadi, koleksi-koleksi batik ini sebagian diperoleh langsung dari empat istana di Solo dan Yogyakarta, yakni Kraton Kasunanan Surakarta, Keraton Kasultanan Yogyakarta, Pura Mangkunegaran, dan Pura Pakualaman.

Beberapa kain koleksi PB X juga dipajang bersama foto diri Sang Raja beserta permaisuri GKR Emas. Di sudut lain, sejumlah kain koleksi Pura Mangkunegaran yang sebagian merupakan karya Nyi Ageng Mardusari –salah satu selir KGPAA Mangkunegara VII yang juga dikenal sebagai pesinden dan pembatik ulung pada zamannya.

Karya batik Nyai Mardusari ini, misalnya, Bogas Pakis. Ada juga karya KRAy Mangunkusumo, Gragah Waluh. Atau koleksi lain seperti Parang Sarpa. Warna soga-nya yang kekuningan dipadu dengan motif yang berlatar kebiruan menghasilkan nuansa yang mengesankan. Nuansa soga pun setiap istana memiliki ciri masing-masing. Batik Kasunanan cenderung coklat kemerahan, Batik Kasultanan coklat dan kontras dengan latar putihnya, sedang Batik Pakualaman cenderung krem.

Sedangkan kain koleksi dari Keraton Kasultanan Yogyakarta dan Pakualaman menempati sudut yang lain. Di antaranya adalah kain kemben liris koleksi permaisuri Sri Sultan Hamengku Buwono VII, serta batik Lereng Huk dari Pura Pakualaman.

Kain dodot yang khusus dikenakan untuk busana tari Bedhaya Ketawang bahkan dipajang di tengah ruangan. Kain dodot biasanya berukuran panjang 4,5 meter dengan lebar 2,25 meter. Motifnya disebut alas-alasan yang menggambarkan isi hutan, dengan bentuk stilasi (hewan dan tumbuhan) yang sederhana. Warnanya hijau polos, sedang lukisannya menggunakan bahan perada emas.

Menurut kurator museum, Ny TT Soerjanto (65), dalam museum Danarhadi juga tersimpan kain batik milik Sri Susuhunan Paku Buwono X (1893-1939). Kain dengan motif Ceplok Dempel ini konon sebagai ageman dalem (busana raja).

Ruang galeri pertama museum Danarhadi berisi koleksi Batik Belanda yang sebagian besar berbentuk sarung dengan dominasi motif bunga, dedaunan, hewan terutama burung dan kupu-kupu. Batik Belanda umumnya tampil dengan warna-warna cerah seperti merah, hijau, oranye, dan merah jambu. Di dinding terpajang foto-foto orang Belanda yang sedang mengenakan kain batik. Di ruangan ini dipajang juga sebuah meriam dorong lengkap dengan roda keretanya.

Ruang kedua dipenuhi dengan koleksi Batik Kraton, mulai Kraton Surakarta, Mangkunegaran, Yogyakarta, hingga Pakualaman. Motif dari keempat kraton ini hampir sama, hanya modifikasi motif dan cara pemakaiannya saja yang berbeda. Ada pula koleksi yang disebut dengan Batik Tiga Negeri. Batik yang menggunakan tiga warna yaitu merah, biru, dan coklat ini ternyata dibuat di tiga tempat yang berbeda. Pemberian warna merah dikerjakan di Lasem, warna biru di Pekalongan, sementara warna coklat di Solo. Disebut Tiga Negeri karena batik ini dikerjakan di tiga tempat dengan karakter yang berbeda.

Koleksi lain yang bisa dinikmati adalah Batik China, Jawa Hokokai (batik yang terpengaruh oleh kebudayaan Jepang), Batik Pesisir (Kudus, Lasem, Pekalongan), dan berbagai jenis batik lainnya. Salah satu yang menarik perhatian adalah Batik Cirebon. Selain pengaruh China, jenis batik ini memiliki motif-motif sayap yang menunjukkan pengaruh budaya Hindu dari Kerajaan Mataram Kuno.

Yang tak kalah menarik adalah koleksi khusus museum ini, yaitu beberapa koleksi batik kuno dengan motif unik yang terinspirasi oleh cerita rakyat ataupun cerita legenda. Salah satunya adalah motif Snow White. Batik ini dibuat dengan motif berupa gambar-gambar yang merupakan gragmen dan bertutur tentang dongeng Snow White.

Cerita dimulai ketika ibu tiri Snow White diberitahu oleh cermin ajaib bahwa Snow White adalah wanita tercantik di negeri mereka. Ini membuat sang ibu tiri marah dan membuangnya ke dalam hutan. Gambar-gambar terus berlanjut menceritakan kehidupan Snow White di dalam hutan bersama tujuh kurcaci, makan apel beracun, sampai dengan pertemuannya dengan pangeran yang membangunkannya dari tidur panjang.

Batik Snow White yang termasuk dalam jenis Batik Belanda ini didesain oleh wanita Indo-Belanda pada pertengahan abad ke 19. Meskipun demikian, pengerjaannya tetaplah dikerjakan oleh orang-orang Indonesia. Selain itu masih ada beberapa motif yang bercerita tentang Hans and Gretel, Little Red Riding Hood, dan bahkan cerita Perang Diponegoro.

Tak hanya memajang karya-karya batik, pada saat-saat khusus museum Danarhadi juga membuka gelaran workshop atau belajar membatik secara langsung selama lima hari. Para pengunjung juga bisa menyaksikan langsung kerja para pembatik yang berada di ruangan besar di bagian belakang museum. Di ruang tanpa sekat ini, ratusan pekerja sibuk mengerjakan proses pembuatan batik dari awal sampai akhir, baik batik tulis maupun cap.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*