Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Pagelaran Wayang Kulit “Kresna Gugah” di TBJT

pagelaran wayang kulit - kresna gugah
Kresna Gugah | foto: wayang.files.wordpress.com

Pagelaran Wayang Kulit dengan lakon Kresna Gugah akan diselenggarakan  pada hari Kamis tanggal 15 Januari 2015; Pkl.: 19.30 WIB – selesai di Pendhapa Ageng, Taman Budaya Jawa Tengah. Dalam program rutin Pagelaran Wayang Kulit Jumat Kliwon di TBJT ini akan menghadirkan dalang asal Sukoharjo Ki Maryono Brahim S.

Kresna Gugah merupakan salah satu lakon pagelaran wayang yang diangkat dari cerita mahabarata dan termasuk kisah pakem dalam pewayangan. Meskipun masuk dalam kisah pakem, dalam lakon Kresna Gugah juga terdapat pengembangan-penngembangan cerita.

Lakon pagelaran wayang Kresna Gugah menceritakan usaha para Pandawa dan Kurawa untuk menarik Prabu Kresna dan angkatan bersenjata Dwarawati agar berpihak pada mereka bilamana Baratayuda pecah. Di pihak Kurawa, yang datang ke Dwarawati adalah Prabu Duryudana, sedangkan dari pihak Pandawa mengutus Arjuna.

Sebagai seorang yang bijaksana Kresna memberi dua pilihan pada Kurawa dan Pandawa, memilih bantuan berupa petunjuk dan siasat perang, atau seluruh kekuatan angkatan perang Kerajaan Dwarawati. Apa yang dipilih Arjuna dan Duryudana? silahkan menikmati cerita selanjutya di pagelaran wayang kulit jumat kliwon ini bersama Ki Maryono Brahim.

Ki Maryono Brahim merupakan dalang dari Sukoharjo yangg lahir pada tahun 19 lalu. Dari pegakuannya Ia tak memiliki pendidikan formal kesenian, Ki Maryono menyatakan, dia belajar mendalang secara otodidak dan atas dorongan cinta. Ia mulai mendalang sejak usia 15 tahun dan banyak menggelar pagelaran wayang di daerah-daerah.

Para penggemar pagelaran wayang mengenal sosoknya memiliki banyak kelebihan, dalam hal tata suara (antawecana), kelucuannya dan keprakan, Ki Maryono lebih mantep dari Ki Mantep yang juga kakak kandungnya.

Seperti dikutip dari Poskota.com, Ki Maryono Brahim menyatakan dia mengagumi dalang-dalang Jogya. Dan mengidolakan almarhum Ki Hadi Sugito. “Untuk Ki Hadi Sugito, walaupun tidak menonton pagelaran wayang beliau, walaupun hanya mendengarkan pertunjukkannya di radio, hati saya sudah nreteg, sudah bergetar, “ katanya.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*