Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Pagerjurang, Sentra Industri Gerabah Putar Miring



gerabah pagerjurang
Seorang pengrajin sedang membuat gerabah

Dusun Pagerjurang merupakan satu dusun yang secara turun temurun menjadi sebuah kawasan sentra pengrajin gerabah dan keramik. Dusun yang terletak di Desa Melikan, Kecamatan Wedi, Kabupaten Klaten ini berjarak sekitar 20 kilometer arah tenggara dari pusat kota kabupaten Klaten Jawa Tengah.

Hampir semua warga Dusun Pagerjurang, Desa Melikan, Kecamatan Wedi, memiliki usaha pembuatan gerabah. Setidaknya ada sekitar 200 industri rumahan gerabah di Pagerjurang. Di Pagherjurang, industri-industri rumahan ini satu sama lain saling bersebelahan, berseberangan. Beberapa di antaranya hanya dipisahkan oleh gang atau pun pagar pekarangan. Uniknya, para perajin tidak menganggap satu sama lain sebagai pesaing.

gerabah pagerjurang
Seorang pengrajin sedang membuat gerabah

Gerabah asal dusun Pagerjurang Klaten memang sejak dulu terkenal memiliki kualitas istimewa. Selain menggunakan bahan baku dari tanah pegunungan yang memiliki daya tahan lebih kuat dibanding tanah biasa, bahan baku produk gerabah Pagerjurang juga masih dicampur dengan bahan pelapis berupa tanah liat dari wonogiri yang hampir tidak memiliki sedikit kandungan pasir sehingga lebih padat dan liat.

Selain produk gerabahnya berkualitas super, teknik pembuatannya pun termasuk unik, yakni dengan teknik putaran miring. Cara duduk perajin tidak menghadap lurus ke depan namun menyamping, sedangkan posisi tatakan kayu untuk tanah liat diletakkan miring hampir 45 derajat. Cara unik ini hanya dimiliki secara turun-temurun oleh warga Dusun Pagerjurang, Desa Melikan, Wedi, Klaten.

“Teknik putar miring seperti ini biasanya untuk untuk membuat gerabah-gerabah yang ukurannya kecil dan tipis, seperti dinner set, nampan buah, kendi, mangkuk, dan teko. Kalau yang seperti Ini para perempuan yang mengerjakan,” kata Tukiyem (55), seorang perajin.

Berbeda dengan gerabah tempat lain, gerabah Pagerjurang tidak pernah didiwarnai dengan zat kimia. Satu-satunya pewarnaan hanya menggunakan tanah merah. Warna gerabah dibiarkan natural -hitam kecoklatan sesuai dengan sifat tanah seusai pembakaran (terakota). Warna ini dibuat lewat pengasapan (reduksi).

Tahun 1994, teknik gerabah putaran miring ini menarik perhatian Chitaru Kawasaki, seorang profesor dari Universitas Kyoto Seika, Jepang, untuk melakukan penelitian. Dia bahkan rela tinggal di Melikan untuk risetnya. Hasilnya, Pemerintah Jepang kemudian memberikan bantuan Rp 1 miliar untuk membangun Laboratorium Pusat Pelestarian Budaya Keramik Putaran Miring Melikan pada tahun 2004 lalu.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*