Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Pasar Gede Solo, Perpaduan Arsitektur Gaya Belanda dan Jawa



Pasar Gede 1935 (Kiliaan)
Pasar Gede masa lalu (Kiliaan)

Pasar Gede merupakan salah satu pasar tradisional di Solo yang dirancang oleh arsitek Belanda Thomas Karsten, yang juga salah satu perancang Pasar Johar di Semarang. Pasar ini dibangun sekitar tahun 1930 lalu dengan nama Pasar Gede Hardjanagara. Atap yang besar menjadi satu alasan kenapa pasar ini dinamakan Pasar Gede.

foto-lama-pasar-gede
Pasar Gede 1935 (Westerveld)

Pada mulanya Pasar ini hanya didirikan di area seluas 10.421 hektar, berlokasi di persimpangan jalan dan berhadapan langsung dengan kantor gubernur (sekarang Balaikota Surakarta). Dengam letaknya yang strategis di pusat kota, Pasar Gede Harjanegara lambat laun menjadi pasar tradisional terbesar di Kota Surakarta.

Selain pasar utama yang menghadap balai kota, Pasar Gede juga memiliki kios-kios yang dipisahkan oleh Jalan Sudirman. Kios-kios yang berada di pasar tradisional ini dirancang meghadap langsung ke jalan, hal ini untuk memudahkan pengunjung untuk bertransaksi dengan pedagang.

Pasar Gede Hardjanegara memiliki dua lantai, lantai dasar digunakan untuk berdagang buah, jamu, sayur-sayuran dan berbagai macam kebutuhan rumah tangga lainnya, sedangkan lantai dua pasar digunakan untuk menjual daging.

Rancangan Pasar Gede Hardjanegara memang termasuk canggih. Tidak seperti pasar tradisional lainnya dimana penjual daging selalu diletakkan di lantai bawah. Di ini, separuh dinding pasar lantai dua dirancang secara tebuka dan hanya diberi anyaman kawat sebagai pagar, hal ini berfungsi sebagai ventilasi udara sekaligus pendingin ruang, ventilasi berfungsi untuk menghilangkan bau daging agar tidak menyebar ke seluruh pasar. Selain itu, pasar lawas ini juga sudah memperhatikan sisi ergonomis bagi para difabel, karena di Pasar Gede Hardjanegara sejak dulu sudah dibuat jalur khusus bagi pengguna kursi roda.

 Pasar Gede 1935 (Kiliaan)
Pasar Gede masa lalu (Kiliaan)

Diatas pintu masuk utama Pasar Gede adalah ruangan yang cukup luas dengan sembilan jendela berukuran cukup besar. Ruangan ini didesain oleh Thomas Karsten sebagai ruang pengelola pasar. Dari ruangan ini pengelola pasar dapat dengan leluasa mengawasi aktivitas pedagang pasar maupun melihat suasana diluar Pasar Gede.

Arsitektur Pasar Gede merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya Jawa. Blok tempat jualan para pedagang dibuat lebih tinggi karena pada masa lalu para pedagang pribumi menjual dagangannya dengan bersila, dan pembeli bisa bertransaksi sambil berdiri. Blok yang agak tinggi tersebut  juga dimaksutkan untuk memudahkan pemikul menurunkan barang dagangan langsung dari punggungnya.

Suasana Pasar Gede Solo
Suasana Pasar Gede Solo

Karsten berhasil menciptakan suatu pasar kota yang bersih dan modern, meskipun kegiatannya tradisional.

Pada tahun 1947, pasar ini sempat mengalami kerusakan karena serangan Belanda. Lalu Pemerintah Republik Indonesia mengambil alih wilayah Surakarta dan Daerah Istimewa Surakarta kemudian merenovasi kembali pada tahun 1949. Namun perbaikan atap selesai pada tahun 1981.

Pemerintah indonesia mengganti atap yang lama dengan atap dari kayu. Bangunan kedua dari Pasar Gede, digunakan untuk kantor DPU yang sekarang digunakan sebagai pasar buah.

pasar gede kini
pasar gede kini

Para pedagang yang berjualan di Pasar Gede banyak yang keturunan Tionghoa pula. Budayawan Jawa ternama dari Surakarta Go Tik Swan yang seorang keturunan Tionghoa, ketika diangkat menjadi bangsawan oleh mendiang Raja Kasunanan Surakarta, Ingkang Sinuhun Pakubuwana XII mendapat gelar K.R.T. (Kangjeng Raden Tumenggung) Hardjonagoro karena kakeknya adalah kepala Pasar Gedhé Hardjonagoro.

Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah kelenteng, persis di sebelah selatan pasar ini. Kelenteng ini bernama Vihara Avalokiteśvara Tien Kok Sie dan terletak pada Jalan Ketandan.

(bahan bacaan: mkusumawijaya.wordpress.com & id.wikipedia.org)


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*