Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Belanja di Pasar Tradisional Solo



pasar gede kini
pasar gede kini

Pasar Klewer

Pasar Klewer pada awalnya dinamakan pasar Slompretan. Letaknya di sebelah selatan alun-alun utara, sebelah selatan Masjid Agung. Pasar ini merupakan salah satu pusat perdagangan terbesar di kota surakarta yang didominasi perdangangan busana, mulai dari batik hingga fashion anak muda yang “gaul” bila meminjam instilah pada jaman sekarang ini. Perputaran uang di Pasar Klewer pada tiap harinya menjapai 5 – 6 Milyar Rupiah, tak heran Pasar Klewer kini menjadi pasar Textile terbesar di Jawa Tengah. (Baca selengkapnya : Pasar Klewer, Pusat Perdagangan Busana Terbesar di Solo )

Pasar Gede

Pasar tradisional ini diberi nama pasar gedhé atau “pasar besar” karena terdiri dari atap yang besar. Seiring dengan perkembangan masa, pasar ini menjadi pasar tradisional terbesar dan termegah di Surakarta. Arsitektur Pasar Gede merupakan perpaduan antara gaya Belanda dan gaya Jawa. Dekatnya Pasar Gede dengan komunitas Tionghoa dan area Pecinan bisa dilihat dengan keberadaan sebuah kelenteng, persis di sebelah selatan pasar ini. Kelenteng ini bernama Vihara Avalokiteśvara Tien Kok Sie dan terletak pada Jalan Ketandan. (baca selengkapnya : Pasar Gede Solo, Perpaduan Arsitektur Gaya Belanda dan Jawa )

Pasar Nusukan

Pasar Nusukan yang terletak dijalan Kapten Piere Tendean, Kelurahan Nusukan, Kecamatan Banjarsari Kota Surakarta ini didirikan pada tahun 1958. Setelah mengalami beberapa kali renovasi, pada tahun 1986 ada perubahan luas lahan dari hasil pembebasan tanah kantor Kelurahan dan Gedung Bioskop Nusukan. Pada tahun 2004 salah satu pasar tradisional ini mengalami musibah kebakaran dan dibangun kembali pada tahun 2006. Pada tahun ini juga Pemerintah Kota Surakarta mengalokasikan dana yang diperuntukkan sebagai bantuan subsidi kepada pedagang lama Pasar.

Pasar Nusukan menyediakan berbagai macam kebutuhan sehari-hari, baik kebutuhan pangan maupun sandang. Ativitas pasar dimulai dari dini hari hingga malam. Pedagang sayur-mayur kebanyakan datang dari luar kota Solo seperti Boyolali, Sragen, Purwodadi dan Karanganyar. Lokasi: Jl. Kapten P. Tendean Nusukan Banjarsari Surakarta

Pasar Legi

Pasar Legi didirikan pada masa pemerintahan Mangkunegoro I (Pangeran Samber Nyawa), merupakan pasar induk hasil bumi terbesar di Surakarta, yang mendapatkan pasokan dagangan dari berbagai daerah baik dari wilayah sekitar surakarta maupun dari luar daerah seperti Brebes, Temanggung, Tasikmalaya, Sidoarjo, Malang dan lain sebagainya. Kegiatan pasar tradisional ini dimulai dari dini hari sampai malam hari.  Lokasi Pasar Legi berada di Jl. Jend. S. Parman Stabelan Banjarsari, Surakarta. (baca selengapnya : Pasar Legi Solo, Pasar Induk Hasil Bumi Terbesar di Solo)

Pasar Klithikan Notoharjo

Pasar Notoharjo dibangun pada tahun 2006 oleh Pemerintah Kota Surakarta. Pasar ini terletak di Kalurahan Semanggi, Kecamatan Pasar Kliwon, Kota Surakarta, diatas lahan seluas 1.800m2. Pasar Klithikan Notoharjo dibangun menampung pedagang kaki lima diarea Taman Monumen 45 Banjarsari yang berjumlah 909 pedagang. Pasar Notoharjo lebih dikenal dengan nama Pasar Klithikan karena pasar tersebut sebagai wadah bagi pedagang kakilima yang menjual berbagai barang bekas, seperti elektronik, pakaian, ponsel, sparepart kendaraan dan barang-barang lainnya. Pasar tradisional ini cukup unik karena disini pengunjung bisa menemukan barang-barang bekas yang dengan kreativitas para pedagang maka barang-barang tersebut dimanfaatkan kembali.

Pasar Harddjodaksino

Pasar Harjodaksino terletak di jalan Kom. Yos Sudarso, Kalurahan Danusuman, Kecamatan Serengan Kota Surakarta yang menempati lahan seluas lebih kurang 7.688m2. Pasar ini diresmikan pertama kali pada tanggal 15 Juni 1987. Pasar tersebut sebelumnya adalah pindahan dari Pasar Gemblegan yang berada di bekas terminal bus Gemblegan yang merupakan pelabuhan dari Pasar Dawung dan Pasar Gading.

Pada tahun 2006 Pasar Harjodaksino melakukan pembangunan kios baru bagian depan. Disamping menyediakan kebutuhan sehari-hari, Pasar tradisional Harjodaksino juga menyediakan berbagai barang kebutuhan upacara (ubo rampe) perkawinan atau Temanten. Lokasi: Jl. Kom. Yos Sudarso Danukusuman Serengan Surakarta.

Pasar Kabangan

Pasar Kabangan merupakan salah satu pasar tradisional yang spesifik di Solo yang khusus menyediakan alat-alat rumah tangga atau barang-barang yang terbuat dari seng, aluminium, ban bekas, ember-ember bekas cat, tong-tong bekas bahan kimia, dll. Menurut ceritera dari warga Kampung Klaseman Laweyan yang sudah sepuh, pasar tradisional ini telah ada sejak zaman penjajahan Belanda. Sewaktu pemerintahan Paku Buwono IX pasar ini disebut Pasar Laweyan. (Baca selengkapnya : Pasar Kabangan Solo, Tempat Belanja Alat-alat Rumah Tangga )

Pasar Jongke

Pasar Jongke diresmikan pada tanggal 19 Januari 1992 oleh walikota Solo Hartomo. Pasar Jongke merupakan gabungan dua pasar tradisional yakni pasar Sepeda Ngapeman dan Pasar Jongke sebagai sentra oleh-oleh khas Solo. Ide pendirian pasar ini berasal dari pemerintah, yang salah satu sebabnya karena lokasi Pasar Sepeda Ngapeman akan dibangun Hotel Novotel.

Nama Jongke sendiri diambil dari nama pasar tradisional sebelumnya. Jongke tidak memiliki arti khusus, pun ditinjau dari Bahasa Jawa. Selain menjadi nama pasar tradisional, Jongke adalah nama tempat(kampung) dalam wilayah kelurahan Laweyan. Tidak jelas apakah nama Jongke sebagai kampung ada terlebih dahulu dari nama Jongke sebagai pasar.

Secara administratif, pasar jongke berada dalam wilayah kampung Jongke kelurahan Laweyan. Pasar Jongke merupakan pasar dengan kategori 1 B. karakteristik kios dan los pasar Jongke terbagi menjadi 81 kios yang ada namun hanya 76 kios terisi dengan luas keseluruhan 5000m2.

Sebagai pasar tradisional, Pasar Jongke menjual bermacam-macam barang dagangan seperti manisan,kelontong,sayur mayur,sembako,daging dan pakaian. Namun Pasra Jongke lebih terkenal dengan komoditi sepeda baik yang masih baru maupun yang sudah bekas.

Pasar Kleco (Sidodadi)

Pasar Sidodadi berlokasi di Jalan Slamet Riyadi, Kalurahan Karangasem, Kecamatan Laweyan Kota Surakarta. Pasar tradisional tersebut tidak mempunyai spesifikasi khusus, tetapi mampu menyediakan berbagai kebutuhan pokok masyarakat. Setelah adanya perubahan luas lahan, hasil dari pembebasan tanah makan Kleco, pada tahun 2007 Pasar Sidodadi dibangun kembali oleh pemerintah Kota Surakarta.

Lokasi: Kleco/Jl. Brigjend Slamet Riyadi Karangasem Laweyan.

Pasar Gading

Pasar tradisional ini seperti halnya pasar pada umumnya. Pasar ini dulunya sebagai tempat belanja para abdi dalem Kraton Kasunanan Surakarta,, terutama semasa Paku BUwono X. Pasar ii menjual beragam kebutuhan dapur,, sauran dan buah-buahan, dan perkakas rumah tangga. Lokasi pasar berada di Jalan Veteran.(*)


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*