Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Pasar Triwindu, Pusatnya Barang Antik di Solo

pasar triwindu

Jika Anda penggemar barang antik dan kuno, tampaknya wajib mengunjungi pasar yang satu ini. Namanya Pasar Triwindu. Di pasar yang terletak di ujung Jl Diponegoro, Solo, Jawa Tengah, ini berderet kios menawarkan barang-barang yang siap memanjakan para penggemar barang antik. Barang-barang yang bisa membawa ingatan ke masa lalu. Mulai dari hiasan pintu sampai patung batu, dari wayang sampai meriam logam, dari radio kuno sampai mesin ketik yang berusia puluhan atau bahkan seratusan tahun.

Di pasar Triwindu, Anda juga bisa menemukan seterika arang dengan ciri khas patung jago di ujungnya itu, juga uang-uang logam zaman dulu yang kusam, lalu topeng-topeng kayu, lukisan, lonceng, dan lampu-lampu.

“Banyak barang tak terduga yang saya temukan di sini. Itulah yang membuat saya selalu datang lagi ke Triwindu setiap kali ke Indonesia,” kata Paul Scharlete, seorang wisatawan dari Australia.

Pasar Triwindu mulai buka sekitar pukul 08.00, namun kehidupan baru terasa dua jam kemudian. Para pedagang akan terlebih dulu menggelar dan menata sebagian dagangannya di emperan sampai berderet-deret. Tak jarang para pengunjung harus berjalan ekstra hari-hati agar tidak menyenggol barang-barang. Pengunjung justru lebih banyak datang dari luar kota, seperti Yogyakarta, Semarang, Surabaya, dan Jakarta. Turis asing juga banyak yang mengunjungi pasar berada tak jauh dari Pura Mangkunegaran ini.

Tak hanya kepada para langganan, untuk pendatang baru pun pasar ini juga terasa nyaman. Para penjual tak pernah memaksa pengunjung untuk membeli atau menguntit mereka saat melihat-lihat barang-barang yang dipajang. Sebaliknya, para pedagang justru membebaskan pengunjung untuk melihat dan bahkan mengorek-ngorek tumpukan jika menemukan barang yang dicari.

Di Pasar Triwindu , hampir segala barang yang berembel-embel kuno memang ada. Keris, wayang, koin, lentera, hiasan dinding, topeng, lampu dan gantungannya, jam dinding, mebel, kursi, radio, dan stoples kue. Barang pecah belah seperti perlengkapan makan, taplak meja antik, tirai jendela zaman dulu, sampai karpet yang bahkan sudah sangat usang. Anehnya, meski sudah rusak-rusak, tetap saja ada saja yang bersedia membayar dengan harga mahal. Radio kuno sering menjadi incaran para kolektor, terutama untuk merek tertentu seperti Grundig Majestic, Telefunken Gavotte, dan Philip Mata Kucing. Jam dinding dan lampu gantung peninggalan dari kraton juga menjadi barang buruan.

Menurut sejumlah pedagang, sebagian barang di Pasar Triwindu berasal dari Kraton Kasunanan Surakarta dan Pura Mangkunegaran. Terutama lampu, piring-piring keramik, gebyok (dinding kayu rumah), mesin ketik, jam, bahkan sepeda. Entah bagaimana caranya, yang jelas tidak sedikit barang-barang milik kraton yang dipajang di pasar ini.

“Biasanya barang itu hadiah dari kraton, lalu abdi dalem menjualnya ke sini karena tidak mempunyai uang. Umumnya barang yang dibawa sudah rusak dan tidak utuh lagi. Barang itu baru bisa kita jual lagi setelah diperbaiki sana-sini. Pokoknya perlu waktu lama,” kata Mariman, seorang pedagang Pasar Triwindu .

Mariman mencontohkan salah satu koleksinya, sepeda motor Rountenk buatan tahun 1913, juga diperoleh seorang abdi dalem kraton sekitar tahun 1980 lalu. Ketika dibawa ke kios, Rountenk itu hanya berupa bodi yang berkarat, tanpa roda dan perlengkapan lain. “Setelah lima tahun saya urus, sepeda motor ini akhirnya bisa lengkap. Pernah ada yang menawar Rp 200 juta, tapi saya sudah tidak ingin menjualnya,” tambah Mariman.

Menurut pria separo baya ini, kualitas barang antik tak bisa dilihat serampangan. Terutama jika barang itu berbahan kayu, seperti gebyok, daun pintu-jendela, sekat ruangan, dan mebel. Sebab di Solo banyak ahli “reproduksi”. Dengan berbagai cara, mereka bisa “menyulap” barang produksi baru berubah kuno sehingga terkesan antik dan klasik. Ada yang menggunakan bahan kimia, ada juga dengan cara merendam meja, kursi, atau mebel lain, di sungai kemudian kemudian menjemurnya dalam waktu lama.

Maka, tidak semua barang yang dijual di Pasar Triwindu adalah barang yang benar-benar kuno dan antik. Sebuah barang yang diklaim penjualnya berusia ratusan tahun, bisa saja baru diproduksi sebulan lalu. Meski demikian, di pasar ini akan selalu ada barang dengan kualitas kekunoan yang orisinil. Jika beruntung, Anda bisa mendapatkannya.

Pasar Triwindu dibangun oleh KGPAA Mangkunegoro VII pada 1939, bersamaan dengan genapnya menjabat sebagai Pengageng Pura Mangkunegaran selama 24 tahun. Triwindu merupakan gabungan dari kata “tri” yang artinya tiga, dan “windu” yang berarti delapan. Jika dikalikan, hasilnya 24.

Pada awal berdirinya, lokasi Pasar Triwindu berjarak sekitar 200 meter arah selatan Pura Mangkunegaran. Tepatnya di kawasan pusat pertokoan Pasar Pon. Kios-kios dari kayu berderet di antara gang sempit dan kotor. Di sepanjang kanan-kiri lorong itulah bergelantunan dan bertumpuk barang-barang kuno dan antik, mulai kain batik yang sudah berusia puluhan tahun, uang dan koin kuno, lukisan wayang pada papan kayu, hingga berbagai benda yang diklaim sebagai fosil dari Sangiran. Di antara keriuhan gang terdapat warung soto Triwindu yang melegenda, terselip di antara lapak-lapak pedagang.

Namun, sejak 25 September 2009, Pasar Triwindu direlokasi dan menempati lahan yang baru di Ngarsopuro –sekitar 100 meter dari lokasi lama. Alasannya, menganggu keindahan kota. Maka, tak ada lagi lorong sempit, bilik-bilik kayu lapuk, dan tanah basah seusai hujan. Nama Triwindu bahkan sempat diganti menjadi Windujenar yang terkesan lebih modern –sebelum akhirnya, atas permintaan masyarakat Solo, nama Triwindu kembali dipakai.

Namun, tampaknya hanya nama “Triwindu” yang kembali. Kios kayu tergantikan dinding tembok yang kokoh, tanah basah tertutup keramik, tidak ada lagi gang dan lorong sempit. Tak ada lagi cahaya-cahaya matahari yang menerobos masuk ke dalam kios lewat atap yang bolong. Pasar baru ini jauh lebih luas, bersih, dan menggusur warung soto reyot yang legendaris itu. Semua telah berubah.


1 Comment on Pasar Triwindu, Pusatnya Barang Antik di Solo

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*