Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Pengging Boyolali, Tempat Wisata Alam, Budaya dan Sejarah



pengging boyolali
Pemandian pengging |foto:ayupujawati.wordpress.com

Pengging yang terletak di Kecamatan Banyudono Kabupaten Boyolali terdapat banyak peninggalan sejarah, salah satunya yang terkenal adalah kolam pemandian bernam Tirto Marto yang dibangun oleh Raja Kasunanan Surakarta, Sinuwun Pakubuwono X yang dulunya difungsikan sebagai tempat bersantai raja dan keluarganya.

Di area Pemandian ini memng telah menjadi sebuah kawasan wisata alam sekaligus wisata budaya dan wisata sejarah. Terdapat tiga umbul alami di pemandian Tirto Marto, yakni Umbul Ngabean, Umbul Temanten dan Umbul Dudo. Selain berupa umbul (mata air), di tempat ini juga terdapat beberapa situs sejarah yakni  Masjid Cipto Mulyo dan Makam R. Ng. Yosodipuro.

Di setiap umbul yang ada di pemandian Tirto Marto Pengging memiliki kisahnya masing-masing, Umbul Temanten misalnya, menurut cerita masyarakat setempat umbul ini pada mulanya terdiri dari dua mata air, setelah Pakubuwono X melihatnya kemudian beliau berdoa agar kedua mata air ini dipersatukan. Ibarat laki-laki dan perempuan yang disatukan maka umbul ini diberi nama umbul temanten. (baca juga : Pemandian Tlatar Boyolali, Nikmati Wisata Air dan Kulinernya)

Umbul Dudo di pemandian Tirto Marto Pengging juga memiliki kisahnya yang unik, pada zaman dulu umbul ini terdapat seekor kura-kura besar berjenis kelamin jantan yang hidup sendirian. Untuk memberi nama umbul ini maka diambillah kata Dudo atau duda yang berarti lelaki yang sudah tidak punya istri.

Nama Umbul Ngabean di pemandian Tirto Marto Pengging diambil dari sebuah nama jabatan abdi dalem keraton yaitu Ngabehi. Memang saat itu umbul ini dijaga oleh seorang Hangabehi yang diutus oleh Pakubuwono X, oleh karena itu sapai sekarang umbul ini dinamakan Umbul Ngabean. Ketiga umbul yang ada di pengging ini sampai sekang masih tetap ramai dikunjungi oleh para wisatawan domestik.

Selain ketiga umbul diatas, di Pengging juga terdapat umbul yang setiap malam Jumat Pahing banyak para pengunjung melakukan ritual Kungkum (berendam di air). Ritual kungkum dipercaya oleh masyarakat jawa sebagai sarana untuk membersihkan diri secara lahir dan batin agar panyuwunan-nya bisa dikabulkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Acara ritual kungkum ini biasanya dilakukan di Umbul Sungsang, Keputren, Kedhaton dan beberapa sumber air alami lainnya mulai pukul 00.00 – 03.00 wib.

Jejak sejarah Pengging tidak hanya pada zaman Pakubuwono, Di tempat ini juga terdapat beberpa makam lainnya yang salah satunya dipercaya sebagai makam Dyah Ayu Retno Kedhaton, putri Prabu Brawijaya dari kerajaan Majapahit. Selain itu juga ada makam Kebo Kenanga dan makam Handayaningrat yang pernah berada di Kerajaan Mataram. Makam  pujangga besar dari Kasunanan Surakarta Hadiningrat R. Ng. Yosodipuro I juga ada di Pengging.

Masjid Cipto Mulyo Pengging
Masjid Cipto Mulyo | foto: mediaindonesia.com

Nuansa spiritual di Pengging hingga saat ini masih dapat dirasakan, meski ritual kejawen sering diadakan di sekitar umbul, namun di Pengging juga terdapat satu situs sejarah berupa masjid bernama Masjid Cipto Mulyo. Masjid ini didirikan oleh Tumenggung Padmonegoro, ayah R.Ng. Yosodipuro yang diangkat menjadi Bupati Pekalongan oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo, dan dikenal sebagai Masjid Karangduwet. Nama Masjid Cipto Mulyo digunakan setelah direnovasi oleh Pakubuwana X.

Nama Pengging disebut-sebut dalam legenda Rara Jonggrang tentang pembangunan kompleks Candi Prambanan. Selanjutnya, dalam sejumlah babad yang menerangkan penyebaran agama Islam di selatan Jawa wilayah ini kembali disebut-sebut, dengan tokohnya Ki Ageng Pengging. Tokoh ini dikenal sebagai pemberontak di wilayah Kesultanan Demak. Kalangan sejarah di Jawa banyak yang menganggap bahwa Pengging adalah cikal-bakal Kerajaan Pajang, kerajaan yang mengambil alih kekuasaan di Jawa setelah Kesultanan Demak runtuh.

Semenjak berkembangnya Kesultanan Mataram dan masa-masa selanjutnya, wilayah Pengging kehilangan kepentingannya dan pusat pemerintahannya berangsur-angsur menjadi tempat untuk pelaksanaan ritual bagi keluarga penerus Mataram. Pengelolaan situs sejarah ini pada masa kolonial dilakukan oleh pihak Kasunanan Surakarta dan sekarang tanggung jawab berada di tangan Pemerintah Kabupaten Boyolali. (Baca juga : Tempat Wisata Boyolali Yang Wajib Dikunjungi)


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*