Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Sepur Kluthuk Jaladara, Kereta Uap Sarana Keliling Kota Solo



Sepur Klthuk Jaladara. Kereta uap buatan tahun 1896
Berkeliling Kota Solo dengan Sepur Klthuk Jaladara

Jika Anda ke Solo atau Surakarta, jangan lupakan wisata yang satu ini, yaitu berkeliling kota dengan naik Sepur Kluthuk Jaladara. Kereta uap buatan tahun 1896 berbahan kayu bakar ini benar-benar eksotis.

Dua gerbongnya terbuat dari kayu jati, verkapasitas sekitar 80 orang. Gerbong buatan tahun 1906 itu memiliki kursi memanjang di kedua sisi dan di tengah, serta kursi yang berhadap-hadapan.

Sepur Kluthuk Jaladara akan membawa Anda dari Stasiun Purwosari melewati Jalan Slamet Riyadi yang legendaris hingga Stasiun Sangkrah dengan jarak tempuh sekitar 6 kilometer. Sekali perjalanan membutuhkan wkatu sekitar 3 jam.

Tidak sekadar melintas, dari dalam kereta wisatawan bisa melihat pemandangan Kota Solo; deretan toko, mal, toko-toko, rumah penduduk, serta suasana alalu-lintas. Selanjutnya, Sepur Klthuk Jaladara ini akan membawa penumpangnya singgah di beberapa tempat wisata heritage yang ada di sekitar Jalan Slamet Riyadi, antara lain Loji Gandrung (rumah dina Walikota Surakarta), Museum Batik Danarhadi, Kampung Batik Kauman, kawasan Gladak, dan Keraton Kasunanan Surakarta.

Menariknya, di dalam kereta penumpang juga disuguhi sajian musik tradisional siteran selama perjalanan. Siter adalah alat musik petik tradisional, bentuknya mirip kecapi di daerah Jawa Barat. Seorang pria tua memainkan siter, kemudian dua atau tiga pesinden wanita melantunkan tembang-tembang Jawa, baik langgam maupun keroncong.

Interior Sepur Kulthuk Jaladara
Suasana Interior Sepur Kluthuk Jaladara

Sambil menikmati pemandangan kota, penumpang sayup-sayup akan mendengar lantunan “Caping Gunung”, “Kota Solo”, “Yen Ing Tawang Ono Lintang”, dan “Suwe Ora Jamu”. Di dalam gerbong, para penumpang benar-benar merasakan nuansa Kota Solo sebagai pusat kebudayaan Jawa.

Tidak lupa, penumpang juga mendapatkan welcome drink berupa minuman jamu tradisional, serta makanan tradisional alias jajanan pasar, seperti onde-onde, getuk, serabi, klepon, dan lainnya.

Namun, wisatawan tidak bisa setiap waktu berwisata dengan kereta uap kuno ini karena harus menyesuaikan dengan jadwal PT Kereta Api Indonesia (KAI), terutama Stasiun Solo Purwosari.

Selain itu, Sepur Kluthuk Jaladara ini juga beroperasi dengan sistem paket wisata, tidak bisa dinaiki secara perorangan. Biasanya kereta uap ini beroperasi 2 kali seminggu, yaitu Sabtu dan Minggu. Namun, tidak menutup kemungkinan Sepur Kluthuk Jaladari beroperasi di luar kedua hari itu jika ada pemesanan.

Ada tiga paket perjalanan, yaitu paket 25 orang, paket 35 orang, dan paket 80 orang. Sekali perjalanan biayanya Rp 3.250.000 untuk penumpang 80 orang. Sedangkan untuk paket 25 orang harganya Rp 360.000 per orang, dan paket 35 orang biayanya Rp 290.000 per orang.

Harga yang ditawarkan memang relatif mahal karena untuk sekali jalan kereta uap ini membutuhkan 3 kubik kayu jati sebagai bahan bakar. Namun, meski biaya relatif mahal, sebenarnya seimbang dengan pengalaman yang didapatkan oleh wisatawan.

Solo resmi mengoprasikan Jaladara (kereta api uap kuno) sejak tahun 2009, tepatnya tanggal 27 September. Steam Loco yang sudah dioperasikan sejak September 2009 ini menempuh rute sejauh 5,6 kilometer atau start dari Stasiun Purwosari hingga Stasiun Sangkrah.

Kereta uap ini pernah merupakan lokomotif uap kuno pada masa penjajahan Belanda. Tahun 1927, ketel uap lokomotif C1218 ini diganti dengan ketel uap buatan Hohenzollern AG Dusseldorf (Jerman) dengan dua rangkaian gerbong

Setelah tidak beroperasi lagi, kereta uap ini disimpan di Museum Kereta Api Ambarawa. Saat menjadi Wali Kota Surakarta, Joko Widodo memindahkan kereta uap kuno ini dari Ambawara ke Solo untuk menarik wisatawan. Sepur Kluthuk Jaladara sendiri diremikian beroperasinya pada 27 September 2009 oleh Menteri Perhubungan saat itu, Jusman Syafi’i Djamal.(Ganug Nugroho Adi)


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*