Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Tedhak Siten, Ritual Bayi Pertama Kali Menginjak Bumi

Tedhak Siten, Ritual Bayi Pertama Kali Menginjak Bumi
Ganug Nugroho Adi

Tedhak Siten adalah upacara adat Jawa menginjak tanah untuk bayi yang memasuki usia delapan bulan atau pitung lapan. Menurut kalender Jawa, selapan terdiri dari 35 hari sehingga pitung lapan berarti 245 hari atau delapan bulan.

Dalam upacara Tedhak Siten ini, bayi usia tujuh lapan menjalani ritual menapakkan kaki ke tanah atau bumi untuk yang pertama kalinya. Upacara Tedhak Siten juga menggambarkan kesiapan seorang anak (bayi) untuk menghadapi kehidupannya.

Tedhak siten sendiri berasal dari kata kata “tedhak” yang berarti turun dan “siten” (siti) yang berarti tanah atau bumi. Ritual ini sekaligus sebagai bentuk pengharapan orang tua agar si anak siap menapaki kehidupan.

Tedhak Siten, Ritual Bayi Pertama Kali Menginjak Bumi
Ganug Nugroho Adi

“Tedhak siten itu ritual menginjak tanah untuk bayi pitung lapan. Selain untuk menghormati bumi, ritual ini juga sebagai ungkapan syukur karena si anak akan mulai belajar berjalan. Tedhak siten merupakan rangkaian dari upacara kelahiran adat Jawa,” jelas Kanjeng Pangeran Aryo (KPA) Winarno Kusumo, Wakil Pengangeng Sasana Wilapa Kraton Kasunanan Surakarta.

Winarno menambahkan pada zaman dulu, upacara tedhak siten sering dilakukan para orang tua, terutama karena upacara ini juga memberi gambaran masa depan si anak. Salah satunya adalah dalam prosesi si anak memilih barang-barang yang ada di dalam kurungan.

“Barang yang dipilih si anak itu sering kali menjadi wujud masa depan si anak,” tambah Winarno.

Menurut Winarno, manusia mempunyai beberapa tahap perkembangan diri. Pertama, tahap bayi yang sangat tergantung terhadap ibu dan orang lain, bisanya hanya meminta. Tahap kedua adalah anak muda yang mandiri, bisa melakukan sendiri.

Tahap ketiga adalah seorang yang dewasa, yang sudah sadar walau mandiri tetapi tidak egoistis dan menyadari bahwa seseorang mempunyai saling ketergantungan dengan orang lain, tidak bisa hidup sendiri.

Awal dari tahap kedua dimulai, ketika seorang anak mulai belajar berjalan melalui ritual tedhak siten. Jika seorang anak sudah bisa berjalan, maka jika menginginkan sesuatu seorang anak sudah dapat mengambil sendiri tanpa minta pertolongan orang lain. Pada waktu berjalan, kedua kaki sang anak menapak langsung dengan bumi, tidak lagi dalam gendhongan seorang ibu.

Dalam tedhak siten, ada enam prosesi yang harus dijalani si anak, yaitu berjalan melewati tujuh jadah (panganan dari ketan) dalam tujuh berwarna, menaiki anak tangga dari tebu, berjalan diatas tanah dan bermain dengan kedua kaki, mengambil benda-benda yang ada di dalam kurungan ayam, pemberian koin dan bunga oleh ayah dan kakek serta mandi dengan air kembang tujuh rupa.

“Memasukkan si anak dalam kurungan ayam ini melambangkan masa-masa ketika anak yang masih dalam lindungan orang tua sepenuhnya, yaitu masa ketika anak masih dalam gendongan orang tua,” kata Winarno.

Dalam prosesi ini, si anak anak dituntun untuk berjalan maju dan menginjak bubur tujuh warna yang terbuat dari beras ketan. Warna-warna itu adalah : merah, putih, oranye, kuning, hijau, biru dan ungu.

Bubur tujuh warna ini sebagai perlambang agar kelak si anak mampu melewati berbagai rintangan dalam hidupnya. Prosesi kedua adalah ketika si anak mulai bisa menggerakkan kaki untuk belajar berjalan. Dalam tedhak siten, prosesi ini digambarkan dengan ritual si anak berjalan di atas jadah atau panganan dari ketan.

Selanjutnya, tahapan tedhak siten berikutnya adalah si anak harus meniti beberapa undakan yang melambangkan titian kehidupan yang kelak akan ditempuh. Si anak dituntun menaiki tangga yang terbuat dari batang tebu Arjuna, lalu turun lagi.Dalam bahasa Jawa, tebu merupakan akronim dari antebing kalbu, mantapnya kalbu, dengan tekad hati yang mantap.

Tebu Arjuna melambangkan agar si anak seperti Arjuna; berwatak ksatria dan bertanggung jawab atas pilihan-pilihannya kelak. Selalu berbuat baik dan benar, membantu sesama dan kaum lemah, membela kebenaran, berbakti demi bangsa dan negara.

Prosesi tedhak siten keempat, si bocah dimasukkan ke dalam sebuah kurungan yang telah dihias di mana di dalamnya terdapat bermacam benda seperti, buku, perhiasan, telpon genggam, mainan dan seterusnya.

Di dalam kurungan inilah si anak dibiarkan untuk mengambil barang di sekitarnya. Konon, barang yang diambiil menjadi cermin masa depan si anak. Jika mengambil buku, misalnya, naka mungkin satu hari si amak akan menjadi ilmuwan. Jika telpon genggam, bisa jadi si anak akan menjadi ahli komunikasi.

Tahap selanjutnya dalam ritual tedhak siten ini, ayah dan kakek si bocah akan menyebar udik-udik, yaitu uang logam. Maksudnya si anak sewaktu dewasa menjadi orang yang dermawan, suka menolong orang lain. Biasanya sang ibu ikut menyebar udik-udik sambil menggendong si anak.

Prosesi keenam dari tedhak siten adalah memandikan si anak dengan air kembang kantil, mawar, melati dan kenanga. Tahap ini merupakan pengharapan agar dalam kehidupannya kelak, si anak bias mengharumkan namanya serta keluarga besarnya.

Prosesi tedhak siten diakhiri dengan mendandani si anak dengan pakaian bersih dan bagus. Maksudnya supaya si anak mempunyai jalan kehidupan yang bagus dan bisa membuat bahagia keluarganya.

Di masa sekarang, tak banyak lagi masyarakat Jawa yang menggelar upacara adat tedhak siten ini. Mereka yang masih menjalankan upacara tedhak sitem biasanya terbatas pada keluarga di lingungan kraton, keluarga-keluarga Jawa keturunan priyayi (terhormat) dan mereka yang memiliki tradisi Jawa yang masih kuat.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*