Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Wayang Beber, Seni Pertunjukan Melalui Bahasa Rupa



wayang beber solo

Wayang beber adalah jenis pertunjukan wayang yang menggunakan media kain (mori) yang berisi lukisan para tokoh sekaligus cerita wayang. Karena panjangnya lukisan, maka kain (mori) harus digulung pada tiang di dua sisi dan hanya menyisakan bentangan kain berisi degan yang sedang diceritakan si dalang.

Disebut wayang beber karena si dalang harus membeber atau membuka gulungan kain dalam mementaskan lakon-lakonnya. Lakon berpijak pada Cerita Panji, yaitu roman percintaan antara Panji Asmarabangun dan Dewi Sekartaji.

“Si dalang tinggal melisankan lukisan cerita yang ada di kain panjang kepada penonton. Sekarang wayang ini sudah sangat jarang dipentaskan. Tidak hanya di Solo, tapi juga di daerah asalnya sana,” kata Dani Iswardana, seorang pelukis wayangbeber komtemporer asal Solo.

Tak hanya aspek seni pertunjukan, sisi kesenirupaannyapun terkesan mandeg. Lukisan wayang ini yang tersisa hanya disimpan secara pribadi dan berhenti pada artefak.

“Padahal pada zaman dulu, pertunjukan wayang beber menjadi tontonan yang paling sering digelar. Wayang ini sudah ada sejak zaman Kerajaan Kedia (1200-an). Jauh lebih tua dari wayang kulit,” tambah Dani.

Warna yang digunakan khas didominasi warna coklat, kuning, dan hijau cerah dengan sapuan tipis. Bisa jadi karena media yang digunakan adalah kain, sehingga tidak memerlukan sapuan yang tebal.

Dani Iswardana dari Solo mengenalkan Wayang Beber Kota. Embel-embel “kota” ini untuk membedakan karyanya dengan wayang beber klasik. Pada versi Dani, lakon tidak lagi bersandar pada Cerita Panji, melainkan kehidupkan masyarakat pinggiran berikut masalahnya. Ia mempertahankan bentuk tokoh (wayang beber), namun menggubah cerita ke masa sekarang.

Maka jangan heran jika dalam lukisan wayang karya Dani bisa ditemukan sosok Limbuk yang kelimpungan menghadapi banjir akibat karena got pemukiman mampet penuh sampah. Jangan pula heran menemukan tokoh Dewi Sekartaji yang histeris karena harga bawang merah melonjak.

Bagi sabagian orang wayang beber masih dianggap keramat, hal ini dapat dijumpai di Wonosari, Gunung Kidul, dan Pacitan, Jawa Timur. Keluarga ahli waris tidak mengizinkan sembarang orang boleh melihat lembaran asli wayang. Jika terpaksa harus dilihat, perlu ritual khusus.

Masih di Pacitan, banyak yang menyebut generasi terakhir dalang wayang beber Joko Kembang Kuning adalah Ki Sarnen Gunocarito sebabagi dalang generasi 12 yang kemudian dilanjutkan oleh Ki Sumardi. Sayangnya, kedua dalang yang sangat piawai memainkan wayang ini sudah meninggal dunia.

Namun kini mulai muncul nama Ki Supani sebagai generasi 14, karena dia merupakan cucu Ki Sarnen atau anak dari Ki Sumardi. Sayangnya, Ki Supani belum cukup piawai membawakan wayang beber klasik.

“Saya menjadi dalang wayang ini karena turun-temurun. Saya masih harus banyak belajar agar bisa sepintar kakek dan bapak,” ujar dia seusai pentas di Balai Sudjatmoko tahun 2013 silam.

Di Wonosari, Gunung Kidul, wayang jenis ini bernama Wayang Beber Kyai Remeng Mangunjaya. Pemiliknya adalah Ki Sipar yang merupakan keturunan ke tujuh dari Kyai Remeng Mangunjaya.

“Zaman telah berubah, Wayang beber memang mulai langka. tapi setidaknya masih banyak perupa yang masih setia pada akar tradisi, meski karya-karya mereka telah jauh berkembang,” kata Dani. (GNA)


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*