Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Winarno Kusumo, Tumbuh Dalam Kesetiaan Budaya Jawa

WINARNO-KUSUMO

Kanjeng Pangeran (KP) Winarno Kusumo merupakan sosok sederhana yang diangkat oleh Paku Buwono (PB) XII sebagai salah satu “penjaga” budaya jawa di Kraton Kasunanan Surakarta. Hal ini terkait dengan keahliannya dalam menulis huruf jawa (seratan), melantunkan tembang-tembang jawa (macapatan) dan penguasaan tata cara berbahasa jawa (hamicara).

Di Pawiyatan Pambiworo, sebuah lembaga pendidikan seni budaya di kraton, KP Winarno Kusumo mengabdikan diri sebagai empu budaya jawa.

KP Winarno Kusumo lahir di Sukoharjo 11 Februari 1949, belajar budaya jawa sejak kecil dari ayahnya Raden Tumenggung (RT) Taryo Kusumo yang saat itu merupakan seorang maestro bahasa jawa. Sang ayah sangat menguasai tembang macapat (termasuk puluhan jenis iramanya), piawai dalam menulis huruf-huruf jawa hanacaraka dan menjadi penerjemah kitab-kitab lama kraton dari bahasa Jawa ke bahasa Indonesia.

“Dari bapak saya belajar banyak, termasuk nilai-nilai falsafah Jawa. Saya tumbuh di tengah lingkungan budaya Jawa, sehingga tidak asing dengan budaya Jawa,” kata Winarno.

Sejak SD dan SMP Winarno Kusumo sering menjuarai lomba pidato bahasa jawa dan nembang, bahkan ketika duduk di kelas 2 SMP dia dipercaya mengasuh siaran bahasa jawa di Radio Republik Indonesia (RRI) Surakarta, dan juga mengisi program siaran macapatan saat menginjak kelas 3 SMP.

“Bahasa daerah itu sebuah kebudayaan, jadi harus dirawat dan dijaga. Cara yang saya lakukan ini hanya sebagian kecil dari banyak cara yang bisa dilakukan,” ujar suami dari Endang Tutut Hartati Nur ini.

Selain mengajar di Pawiyatan Pambiworo, KP Winarno Kusumo juga menghidupkan tradisi nembang “Macapat Pringgitan” di Kraton Kasunanan. Macapat jenis ini berbeda dengan macapat pada umumnya, tertama irama dan cengkoknya. Disebut macapat pringgitan, karena tembang ini hanya boleh dilantunkan dan dipelajari di pringgitan, yaitu ruang antara pendapa dan dalem ageng (bangunan utama) kraton), serta tempat-tempat sepi.

Tidak banyak orang yang menguasai macapat pringgitan ini. Sebelum Winarno, hanya Raden Tumenggung (RT) Tarman Prajawara, seorang maestro waranggana (penembang gending Jawa), yang menguasai macapat pringgitan ini. Tarman kemudian mengajarkannya hanya kepada satu orang, yatiu Winarno.

Selama lebih 30 tahun menjadi guru budaya Jawa, Winarno juga telah menjadi “dosen pembimbing” bagi beberapa mahasiswa magister dan doktoral, baik mahasiswa dalam negeri maupun mahasiswa asing, seperti Jepang, Belanda, dan Amerika.

“Saya tidak punya keinginan muluk-muluk. Mengabdi pada kraton dan mengajarkan apa yang saya bisa, itulah cara saya nguri-nguri (melestarikan) budaya Jawa,” ujar pria yang ramah ini. (GNA)


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*