Portal wisata Solo Raya, budaya jawa, info belanja di kota Solo>

Gundul Gundul Pacul, Lagu Anak Sarat Makna




gundul-pacul
Gundul Pacul

Gundul Pacul merupakan salah satu lagu dolanan (lagu bermain) di Jawa yang populer dinyanyikan oleh anak-anak. Seperti yang dilansir dari wikipedia.org, lagu Gundul Pacul diperkirakan dibuat pada tahun 1400 oleh Sunan Kalijaga. Meski demikian ada juga yang menyebutkan lagu tersebut diciptakan oleh R.C. Hardjosubroto, seorang komposer karawitan Jawa pada era 1950 – 1970 yang juga menciptakan lagu Suwe Ora Jamu.

Meski termasuk kategori lagu bermain, Gundul Pacul memiliki nilai filosofis yang mengajarkan pada anak-anak maupun orang dewasa agar tidak bersikap sombong pada sesamanya, karena kesombongan hanya akan menghasilkan kesia-siaan.

gundul-pacul
Gundul Pacul
Ada banyak tafsir terhadap makna filosofi lagu Gundul Pacul, setiap orang maupun daerah di Jawa terkadang mempunyai cara pandang yang berbeda meski pada hakikatnya memiliki pesan yang sama.

Gundul gundul pacul, gembelengan

Gundul adalah kepala plontos tanpa rambut. Kepala adalah lambang kehormatan dan kemuliaan seseorang, sementara rambut adalah mahkota lambang keindahan kepala. Dengan demikian, gundul artinya adalah kehormatan yang tanpa mahkota.

Pacul adalah cangkul, alat pertanian yang terbuat dari lempeng besi segi empat, merupakan lambang rakyat kecil yang kebanyakan adalah petani. Orang Jawa mengatakan bahwa pacul adalah papat kang ucul (lit. “empat yang lepas”), dengan pengertian kemuliaan seseorang sangat tergantung kepada empat hal, yaitu cara orang tersebut menggunakan mata, hidung, telinga, dan mulutnya. Jika empat hal itu lepas, kehormatan orang tersebut juga akan lepas.

  1. Mata digunakan untuk melihat kesulitan rakyat.
  2. Telinga digunakan untuk mendengar nasehat.
  3. Hidung digunakan untuk mencium wewangian kebaikan.
  4. Mulut digunakan untuk berkata-kata yang adil.

Gembelengan artinya “besar kepala, sombong, dan bermain-main” dalam menggunakan kehormatannya.

Dengan demikian, makna kalimat ini adalah bahwa seorang pemimpin sesungguhnya bukan orang yang diberi mahkota, tetapi pembawa pacul untuk mencangkul (mengupayakan kesejahteraan bagi rakyatnya). Namun, orang yang sudah kehilangan empat indera tersebut akan berubah sikapnya menjadi congkak (gembelengan).

Nyungi nyunggi wakul kul, gembelengan

Nyunggi wakul’ (membawa bakul di atas kepala) dilambangkan sebagai menjunjung amanah rakyat. Namun, saat membawa bakul, sikapnya sombong hati (gembelengan)

Wakul ngglimpang segane dadi sak latar

Wakul ngglimpang (bakul terguling) melambangkan amanah dari rakyat terjatuh, akibat sikap sombong saat membawa amanah tersebut. Segane dadi sak latar (nasinya jadi sehalaman) melambangkan hasil yang diperoleh menjadi berantakan dan sia-sia, tidak bisa dimakan lagi (tidak bermanfaat bagi kesejahteraan rakyat).

Sumber : https://id.wikipedia.org/wiki/Gundhul_Pacul

Be the first to comment

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.


*