X
    Categories: Seni Budaya

Makna Kembar Mayang dalam Pengantin Jawa

Tradisi perkawinan Jawa lekat dengan uba rampe yang disebut Kembar Mayang, yakni sepasang hiasan simbolik yang terbuat dari rangkaian janur, debog (batang pohon pisang), buah dan kembang panca warna. Dua Kembar Mayang dibuat sejak acara midodareni, berukuran setinggi sekitar satu meter. Biasanya seorang pria dan wanita mengusung kembang mayang tersebut dengan disertai sepasang cengkir gading saat upacara panggih.

Bukan tanpa alasan orang Jawa jaman dulu menciptakan Kembar Mayang. Sebagai salah satu elemen perlengkapan ritual pengantin Jawa, disetiap bahan yang digunakan untuk membuat Kembar Mayang adalah simbol doa dan harapan keluarga terhadap jalannya sebuah prosesi perkawinan adat Jawa.

Terdapat empat jenis hiasan janur yang terdapat dalam Kembar Mayang. Janur yang dianyam menyerupai bentuk keris bermakna melindungi dari marabahaya, hal ini dimaksudkan agar kedua mempelai berhati-hati dalam mengarungi kehidupan keluarga. Janur yang dianyam seperti bentuk belalang (walang:bahasa jawa) memiliki makna agar tidak terjadi halangan dalam berkeluarga. Janur yang berbentuk payung bermakna pengayoman, dan janur yang berbentuk burung melambangkan kerukunan dan kesetiaan sebagaimana burung merpati.

Sedangkan makna yang terkandung dalam kembang panca warna diantaranya; Beringin berarti agar kedua mempelai bisa saling mengayomi; Daun puring, supaya dalam keluarga tidak terjadi uring-uringan (dapat menahan amarah); Daun andong, untuk menjaga sopan santun terhadap sesama; dan daun lancur, bermakna agar kedua mempelai hendaknya mampu berpikir panjang dalam menghadapi berbagai permasalahan hidup.

Bunga yang disertakan adalah melati, kantil, dan pudak, serta bunga merak. Buah yang biasanya digunakan adalah nanas yang diletakkan di posisi paling atas, kadang-kadang ditambah apel dan jeruk. Sindur (selendang pinggang berwarna merah-putih) juga dibebatkan pada kembar mayang.

Dalam tradisi Jawa kedua kembar mayang tersebut memiliki nama, masing-masing dinamakan Dewandaru dan Kalpandaru. Sejak dulu Kembar mayang dipercaya sebagai pinjaman dari para dewa, sehingga setelah upacara selesai harus dikembalikan dengan membuang di perempatan jalan atau dilabuh (dihanyutkan) di sungai atau laut.

Ritual nebus kembar mayang biasanya dilakukan dengan cara membeli kembar mayang dari si pembuatnya. Kembar mayang ditebus oleh orang tua dari pihak mempelai wanita dan selanjutnya dibawa oleh sepasang perawan dan perjaka atau disebut Prawan Sunthi dan Joko Kumolo.

Pada saat mempelai dipertemukan, Prawan Sunthi dan Joko Kumolo yang bertugas membawa kembar mayang tadi mengiringi di sampingnya. Jika mempelai wanita masih perawan, cara membawa kembar mayang diangkat sejajar pundak. Namun jika mempelai wanita sudah hamil cara membawanya tidak bolehdi atas perut.